"Terima kasih banyak, Pak."
"Saya yang harusnya bilang terima kasih sama kamu, Diandra. Kamu sudah berhasil membuat SMA Mutiara menjadi juara pertama dalam lomba kemarin." ucap Pak Siswanto-Kepala sekolah SMA Mutiara.
"Tidak masalah, Pak." Diandra membalas.
"Saya minta maaf karena baru bisa serahkan hadiah untuk kamu sekarang. Dua hari kemarin saya harus ke Yogyakarta untuk acara pertukaran pelajar."
Diandra mengangguk. "Tidak apa, Pak. Terima kasih sudah memberikan apresiasi sebanyak ini untuk saya." tangannya mengangkat amplop putih berisi uang yang cukup tebal.
"Itu tidak seberapa, Diandra. Kamu berhak mendapatkan itu. Kamu hebat." puji Pak Siswanto yang terkagum dengan prestasi salah satu murid di sekolah yang sedang dirinya tangani.
"Seharusnya saya memberikan kamu lebih, tapi kamu menolak."
"Ini sudah lebih dari cukup, Pak."
"Kamu hebat. Sungguh. Saya mengakui kehebatanmu. Kamu benar-benar bisa di andalkan dan tidak mudah menyerah, Diandra. Pasti sulit bermain tunggal di acara ganda."
Tertawa pelan hanya untuk menyairkan suasana. Pak Siswanto terlalu berlebihan untuk masalah seperti ini.
"Saya dapat pastikan jika patnermu menyesal karena menolak untuk ikut serta dalam perlombaan kemarin."
Sebentar.
Menolak?
Diandra berdehem. "Maaf, Pak. Patner saya menolak?" tanyanya.
Pak Siswanto mengangguk. "Iya. Dia menolak ikut dalam lomba ini."
"Kalo boleh tau, kenapa ya, Pak?"
"Sejauh yang saya tau, dia menolak dengan alasan tidak menyukai sejarah," menjeda. "Apa kamu sampai sekarang belum tau alasan patnermu menolak?"
Kepala Diandra menggeleng. Ia bahkan tidak tau siapa patnernya.
"Saya aja tidak tau, Pak. Siapa patner saya kali ini."
Pak Siswanto nampak tidak percaya dengan ucapan Diandra. Bagaimana bisa Diandra tidak mengetahui tentang ini?
"Bukankah Cakra pacar kamu? Apa dia ga kasih tau kamu alasannya?" tanya pak Siswanti nampak heran.
"Cakra?" alis Diandra bertautan. Wajahnya nampak kaget dan tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh kepala sekolahnya ini. Bagaimana bisa Cakra? Cakra sejak awal tidak memberitahukan apapun tentang masalah ini.
"Maksud Bapak, Cakra anak IPS 3?" Diandra memastikan.
Kepala sekolah itu mengangguk. "Iya. Bu Nadia memberitahu saya, jika Cakra menolak untuk di ikut sertakan dalam lomba di hari Bu Nadia menyerahkan nama kalian pada panitia. Dan alasan Cakra tidak jelas,"
"Tidak jelas? Tidak jelas bagaimana, ya, Pak?"
"Cakra hanya bilang, jika ia tidak menyukai sejarah dan tidak tertarik mengikuti lomba ini. Dan satu lagi, ia tidak menyukai patnernya."
"Hah?" terheran. Diandra kali ini benar-benar di biat kaget setengah mampus. Bagaimana Cakra bisa mengatakan hal seperti itu? Cakra tidak menyukainya? Itu hal gila! Tidak mungkin Cakra mengatakan kalimat tidak berhati itu dan terlebih di khususkan untuknya.
"Diandra? Apa kamu baik-baik saja?"
Diandra tersadar. Ia tersenyum pada pak Siswanto. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak. Kalo begitu, saya permisi." setelah mengtakan itu, Diandra pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)