Kaki Diandra seketika melemas ketika baru saja turun dari motor Cakra, sudah di suguhkan dengan mobil milik ayahnya yang terparkir di teras rumah. Diandra ragu untuk masuk sebab perasaannya sudah tidak enak.
"Masuk aja, siapa tau Ayah lo cuma mau mastiin keadaan lo." ucap Cakra berusaha berfikir positif.
Pejaman mata ia lakukan untuk menetralisasikan degub jantungnya. Kepalanya mengangguk menyetujui ucapan Cakra.
"Yaudah, gue masuk, ya. Makasih udah ajak gue muter-muter."
Cakra mengangguk tanpa senyum. "Iya. Yaudah, gue balik."
Motor menyala. Tidak lama Cakra sudah hilang dari pandangannya. Tangannya membuka pintu pagar, berjalan masuk setelah menutup pagar.
Baru saja melihat pintu utama terbuka bulu romah Diandra langsung berdiri. Seharusnya ia meminta semua kunci rumah agar ayahnya tidak datang sesuka hati. Jika begini terus bisa-bisa Diandra kena serangan jantung.
"Assalamualaikum."
Tidak ada sautan dari dalam. Diandra berjalan mendekat pada sang ayah yang tengah duduk diam di atas sofa tanpa melakukan apapun.
"Ayah, sejak kapan Ayah datang?" basa basinya hanya untuk menenangkan perasaan yang sedang bergejolak.
Silivanya di telan paksa.
"Mau Dian bikinin kopi atau teh, Yah?"
Ayahnya menoleh, wajah tegas khas ayahnya di tampilkan.
"Tidak usah banyak basa-basi. Dari mana kamu jam segini baru pulang?!"
Glek!
"Habis keluar sebentar cari angin, Ayah. Dian ga tau kalau Ayah dateng. Maaf, Ayah." ucapnya lesuh. Kepalanya tertunduk. Ia benar-benar tidak tau jika ayahnya akan datang berkunjung sekarang. Ia memang yakin ayahnya akan datang, tapi prediksinya malam bukan sore seperti ini.
"Sudah berani kamu, ya, sama saya. Sudah merasa bebas, iya?!"
"Enggak gitu, Ayah. Dian benar-benar ga tau kalo Ayah mau datang. Maaf Ayah."
"Minta maaf untuk apa? Untuk bolosmu atau mainmu?"
Mata Diandra memandang ayahnya.
"Kening dan bibirmu kenapa? Berantem? Semakin nakal kamu, ya! Sudah pintar bolos, sekarang nambah jadi tukang berantem. Mau sekolah atau cari sensasi kamu. Hah!" bentak ayahnya.
"Maaf, Ayah." kepalanya kembali tertunduk.
Lio berjalan mendekat pada anaknya hingga berdiri di depan Diandra. Tangannya mengangkat dagu Diandra agar mata hitam anaknya bisa menatap langsung mata miliknya.
Awalnya Diandra takut, tapi setelah memastikan jika ayahnya hanya ingin ia menatap matanya Diandra sedikit tenang.
"Dasar anak ga tau diri!"
Plak!
Tamparan meluncur dengan keras di tempat yang sama. Sudut yang terluka akibat tamparan dari Claudia. Rasa perih yang semula hampir hilang kini datang kembali menyerang Diandra.
"Saya sekolahin kamu biar pintar, bukan buat jadi tukang pukul!"
Telunjuk ayahnya menyentuh kepala Diandra lalu di tekan-tekan dengan keras sambil berkata. "Punya otak itu di pakai! Jangan buat pajangan aja!"
"Susah payah saya bekerja untuk menyekolahkanmu agar pintar, tapi sekarang kamu malah semakin semaunya saja! Kamu pikir saya mau punya anak goblok? Kamu masuk jurusan IPS saja sudah buat malu, bagaimana jika nilaimu menurun?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)