Bagian 33

291 27 4
                                        

Markas Dark Lion. Markas yang hanya boleh di singgahi oleh anggota Dark Lion itu sendiri. Jika ada seseorang yang ingin masuk, maka harus di temani oleh salah satu dari mereka.

Tempat ini sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang melakukan pekerjaannya sendiri. Cakra, Satria dan Baihaqi yang memilih membolos dan bersembunyi di markas DL kini tengah makan.

Baihaqi terlihat lahap menyantap mie ayam yang ia pesan dari jasa ojek online. Sedangkan Satria, terlihat santai dengan ayam geprek sambal matah yang di beli di warung perempatan jalan tadi.

Cakra? Laki-laki itu hanya diam dengan kopi dingin yang hanya di aduk-aduk saja tanpa di minum sama sekali. Padahal, ini sudah kopi ke tiga yang laki-laki itu beli dan hasilnya sama, hanya di buat mainan tanpa di sentuh.

Baihaqi beranjak dari duduknya. Membawa plastik sampah untuk di buang di tempat sampah. Tidak lama Satria mengikuti, membawa sampah makanannya lalu berjalan keluar markas.

Kini Cakra sendiri. Laki-laki dengan kaus putih dan celana abu-abu itu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Fikirannya sedang berantakan. Banyak sekali cabang masalah yang sampai sekarang belum tersusun rapih. Kini, ia memejamkan mata dengan tangan kiri yang ia gunakan untuk menutup matanya.

"Mau sampai kapan kamu di dalam terus?!"

Cakra terdiam di atas ranjang mendengarkan suara keras milih papahnya. Ia bukan tidak berani keluar, tapi ia malas untuk berdebat dengan sang papah.

Dor...dor...dor

Pintu di ketuk dengan kencang. Irawan--papahnya mendobrak pintu dua kali. "Buka sendiri atau Papah dobrak!"

Cakra masih belum bergerak. Demi apapun rasanya malas sekali bertengkar dengan papahnya. Jujur saja, Cakra lebih memilih diam dari pada beradu argumen dengan Irawan.

"Radit!"

Cakra menghela. Tubuhnya ia paksa berdiri dengan helaan napas yang berulang kali ia keluarkan. Tangannya membuka pintu yang terkunci, menatap papahnya yang tenggah bersedekap dada.

"Sudah bisa cari uang sendiri, hah?!"

Cakra menunduk.

"Maaf." ucapnya singkat.

"Turun dan makan." titah papahnya.

"Ga. Radit ga laper."

"Sekarang apa lagi, Radit? Tiga hari yang lalu Mamah laporan kalo kamu bertingkah. Sekarang apa lagi? Mau  apa lagi?!"

"Pah! Radit cuma ga mau nyakitin Sintiya. Itu aja, kok."

Irawan berdecah. Kedua tangannya di letakkan di pinggang menatap anaknya. "Papah tau. Tapi ini sudah menjadi kesepakatan, Radit. Kamu ga boleh egois!"

"Tapi, Pah. Radit ga bisa terus-terusan sama Diandra. Radit benci sama Diandra!" Cakra membalas lagi.

Irawan menghela kesal. Sulit sekali mengajak Cakra berbicara. Emosinya selalu naik jika berhadapan dengan Cakra.

"Radit! Papah maklum. Kamu sayang sama Sintiya, tapi Diandra adalah tanggung jawab kamu. Kamu ga bisa seenak kamu sendiri."

"Pah, please. Radit udah ga bisa. Hampir dua bulan Radit bohongin diri Radit sendiri dan juga Diandra. Siang nanti, Radit mau bilang semuanya sama Diandra. Terserah, terserah Papah mau marah atau ga."

Cakra membuka mata. Menatap Sintiya yang tiba-tiba ada di sampingnya. Senyumnya terbit kalah melihat wajah judes milik Sintiya.

"Udah pulang sekolah?" tanya Cakra Sintiya mengangguk.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang