Bagian 6

387 29 0
                                        

Cakra menepati janjinya. Laki-laki itu benar-benar menjemputnya. Diandra yang sedang memakai sepatu di depan pintu tersenyum melihat kehadiran Cakra. Laki-laki itu terlihat tampan dengan seragam sekolah serta jaker kulit berwarna hitam yang sedang ia kenakan.

Diandra bangun. Mengunci pintu rumah lalu berjalan menuju gerbang yang masih tergembok. Gerbang terbuka lalu di kunci kembali.

Gadis itu tersenyum pada Cakra yang tengah memperhatikannya.

"Udah sarapa belum?"

Diandra mengangguk.

Sambil memakaikan helm Cakra bertanya. "Sama apa?"

"Bubur bayi."

Wajah Cakra menatap sempurna pada Diandra, "Masih suka makanin bubur instans buat bayi? Rasa beras merah?"

Dengan kekeh Diandra mengangguk.

Cakra menggeleng kepala takjub. Pacarnya memang benar-benar ajaib.

"Gue kira lo udah bosen makanin begituan, Di. Gue aja yang denger suka pengen gumoh!" Cakra naik ke atas motor, menyalakan motor lalu menyuruh Diandra naik.

"Lo ga bakalan gumoh kalo doyan, Cak!"

"Masalahnya gue ga doyan, Di! Bubur beneran yang bikinnya dari beras aja gue ogah, apa lagi ini, buburnya bayi. Iwww!"

"Udah, ah. Banyak ngoceh lo. Ayo jalan!" titah Diandra. Cakra menurut dan langsung memainkan gigi motornya.

Ragazza

Ke dua gadis dengan sifat berbeda itu tengah berjalan beriringan dengan ponsel di genggaman tangan mereka. Selina dan Sintiya adalah dua manusia yang sudah menemani Diandra sejak kelas sepuluh. Tapi pengetahuan mereka tentang Diandra tidak seluas Cakra.

Sintiya yang terkenal diam dan lebih suka berbicara jika ingin saja adalah gadis yang di sukai oleh ketua kelas XII IPS 2. Ya, Putra. Tapi menurut berita yang menyebar, Sintiya sudah memiliki kekasih dan itu di rahasiakan oleh Sintiya bahkan teman-temannya pun tidak tau.

Selina. Gadis yang hampir sama sifatnya dengan Diandra. Selina itu berisik. Ramai dan tidak suka suasana sepi. Intinya Selina itu kebalikan Sintiya.

Di antara mereka, hanya Selina saja yang masih mempertahankan kesucian statusnya. Selina sama sekali belum pernah berpacaran.

Keduanya masuk ke dalam kelas dengan santai. Suasana di kalas masih sepi. Mereka duduk di kursi mereka di deretan ke dua sedangkan ketiga adalah kursi Diandra dan sih laki-laki berkaca mata itu.

Baru saja bokong mereka di istirahatkan, Putra sudah datang dengan gaya cool yang di buat-buat. Laki-laki itu duduk di atas meja bagian Sintiya. Sintiya nampak acuh sedangkan Selina sudah mulai emosi.

"Sintiya yang cantik, pujaan hati Abang Putra. Istirahat kita makan ayam geprek, yuk!"

Putaran mata menjadi jawaban yang paling tepat. Selina tertawa kencang. Ia sangat puas dengan apa yang baru saja matanya saksikan.

"Mampus! Di tolak! Lagian mana ada sih ayam geprek di kantin, ngaco lo!"

Putra menatap Selina. "Itu, Bu Titin jualan ayam. Tinggal di geprek terus kasih saus, jadi deh!"

"Ayam ancur balur saus itu namanya bodoh!"

Ketiganya kompak menoleh pada pintu. Diandra masuk ke dalam kelas dan memilih langsung duduk di kursinya mengabaikan tatapan Putra yang tersorot padanya.

"Manusia bucin yang satu ini emang harus di musnahkan!"

Sambil meletakan tasnya di atas meja Diandra melirik Putra tajam. "Kalo ga bisa dapet hatinya Sintiya, setidaknya hati teman-temannya. Lo mah bego, temannya di berantemin."

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang