Bagian 32

313 25 0
                                        

Gadis dengan rambut terkuncir kuda itu berjongkok, memandangi ban motornya yang kempes. Bokongnya terduduk dengan kedua tangan yang memegang kepala.

"Sial banget sih, gue." gummanya.

Hari ini adalah hari pertama dirinya membawa motor pemberian ayahnya. Ia berencana untuk lebih menghemat pengeluran sebab di rumah tidak lagi hanya dirinya seorang diri melainkan ada Arga. Jangan lupakan Arga.

Tapi mengapa kesialan datang pada dirinya? Masa iya dirinya harus mendorong motor sampai bengkel?

Napasnya berulang kali terelah. Ia menatap sekitar parkiran yang sudah mulai kosong. Semua orang yang melihat dirinya terduduk seperti gembel hanya memandangnya saja tanpa mau menolong.

Sekali lagi, tangan munggil yang tidak tau apa-apa itu mencoba memegang ban motor belakangnya, di tekan dan ternyata kempesnya parah. Dapat di pastikan jika ini bocor, bukan kempes.

Ponselnya bergetar. Diandra menganbilnya dan membuka pesan tersebut. Lagi-lagi nomor ini, nomor yang semalam mengirimkannya pesan dan menanyakan keadaan perutnya.

0855******
|Bagaimana, suka dengan hadiahnya?

"Hadiah?" beo Diandra masih belum mengerti. Hadiah apa yang orang itu maksud? Bukankah seharian ini ia tidak mendapatkan kado atau hal yang bersangkutan dengan hadiah?

Ponselnya kembali bergetar. Diandra lekas membukanya dan sekarang ia paham apa yang di maksud dengan hadiah.

0855******
|Apa kau tau arti sebuah darah?

|Sepertinya kau tidak bodoh untuk tidak mengetahui tentang ini. Dan, tunggu hadiah selanjutnya.

Sudah lah. Mungkin orang ini hanya isang. Ia tidak memiliki pekerjaan sehingga bermain-main dengannya. Tapi tunggu. Apa mungkin kejadian di ruang loker masih memiliki kelanjutan?

"Kenapa hidup gue jadi ribet banget sih!" monolognya kesal.

Suara berisik dari arah pintu masuk parkiran mengalihkan perhatian Diandra. Diandra sempat menatap kumpulan orang itu lalu pandangannya malah kembali menatap ponsel yang layarnya gelap.

Sintiya, Cakra, Satria dan Baihaqi mendekat. Posisi Sintiya ada di samping Cakra. Keempat orang itu berhenti di depan Diandra yang dengan santai masih mempertahankan posisi duduk di jalan yang cukup berdebu.

Saat empat orang itu berhenti di dekatnya, pusat perhatian Diandra langsung ada di tangan Sintiya dan Cakra yang saling bertautan. Ketika Sintiya ingin melepaskan tautan itu Cakra terlihat menahannya. Kenyataan itu cukup membuat sesuatu di rongga dadanya terasa di pukul kencang.

Bibirnya di tarik paksa. Gadis itu bangun dan berdiri di hadapan Cakra dan juga Sintiya.

"Nyaman banget tangan lo, Cak." ujarnya diiringi senyum miring.

"Yan, gue bisa-"

Ucapan Sintiya terpotong oleh gerakkan telunjuk Diandra yang menempel pada bibir gadis itu sendiri.

"Ga usah bahas hal kaya gini." ujar Diandra. "Percuma. Mau lo jelasin sampai kambing bertelur pun ga berguna. Lo tetep temen deket gue, dalam kutip, dulu. Jadi, lo lakuin apa yang bikin lo bahagia dan ga usah peduliin gue. Karena gue yakin, sekuat apa gue untuk menghadapi ini, gue akan jatuh juga. Dan mau seburuk apa lo nantinya, gue tetep anggap lo temen meski kedepannya gue ga yakin kita bisa bareng lagi."

Sintiya menunduk. Ia melepaskan tautan tangannya dengan Cakra secara paksa.

Mata Diandra beralih pada Cakra. "Lo, gue ga tau apa maksud lo lakuin ini sama gue. Gue ga tau apa maksud lo nolak ikut lomba dengan alasan lo ga suka sejarah dan patner lo. Gue benar-benar ga tau! Tapi satu yang gue tau tentang lo, lo beda." bibirnya di tarik paksa agar terlihat bahwa dirinya baik-baik saja.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang