Berjalan dengan langkah yang pelan menikmati angin pagi yang menerpanya. Koridor masih sepi sebab Diandra datang di pukul setengah tujuh pagi.
Kedua tangannya di letakkan di belakang punggung. Matanya sesekali memperhatikan kelas-kelas yang ia lewati. Sepi dan sunyi.
"Diandra!"
Panggilan seseorang dari belakangnya membuat Diandra menoleh kebelakang. Alis gadis itu bersatu dengan isi mata kebingungan.
"Ada apa?" tanyanya ketika orang itu sampai di depannya.
Siswi itu tersenyum lalu memberikan plastik putih padanya. Diandra menerimanya dengan ragu. Plastik itu di buka dan bola matanya melebar.
"Sun?"
Geby. Gadis itu mengangguk dengan senyum manisnya. Benar. Gadis yang menemaninya istirahat kala kemarin lomba dan mengucapkan kata-kata yang aneh bagi Diandra.
"Sesuai dengan apa yang gue tulis kemarin." jawab Geby.
Diandra terkekeh. Ia pikir kalimat yang di tulis Geby saat lomba kemari hanya untuk mengembalikan kesadarannya saja. Ternyata gadis ini benar-benar memberikannya bubur instan bayi dengan rasa beras merah dan dalam jumlah yang begitu banyak.
"Jadi ngerepotin. Gue ganti, ya?"
Geby terkekeh kemudian menggeleng. "Ga usah. Gue ikhlas." tangannya menepuk pundak Diandra. "Gue duluan."
Setelah itu Geby pergi berjalan lebih dahulu meninggalkan Diandra yang masih diam. Ia kembali melirik plastik berisi bubur bayi itu dan tersenyum.
"Lumayan. Buat sarapan dua minggu."
Kembali melanjutkan langkahnya dengan penuh senyum. Ia berjalan memasuki kelas dan duduk kursinya. Menyimpan plastik pemberian Geby di kolong meja. Diandra membuka ponselnya ketika mendapatkan notifikasi dari salah satu aplikasi yang ia miliki.
M-Transfer :
|No rek. 594649*** ada dana masuk sebesar Rp. 5.000.000,00.
Diandra menghela. Ternyata hanya pemberitauan jika ayahnya sudah mentransfer uang bulannya lagi.
Diandra membuka aplikasi whatsapp karena baru saja mendapatkan sebuah notifikasi dari dua orang secara bersamaan.
Ayah :
|Saya sudah kirim uang.
Tante Abila :
|Pulang sekolah sama supir Tante, ya, Di. Tante tunggu di rumah Ayah kamu.
Diandra sempat terdiam membaca pesan dari tantenya. Ia bahkan membaca sampai berulang kali. Apa ini salah kirim? Untuk apa ia ke rumah ayahnya?
"Tiga tahun gue ga pernah nginjek rumah itu. Dan sekarang harus ke sana?" dialognya sendiri.
Huft. Napasnya terelah begitu saja.
Ponselnya ia taruh. Kepalanya menoleh ke cendela di mana ada Selina dan Sintiya yang sedang berdiri dengan pandangan menatap jalanan. Tidak lama siluet seorang laki-laki terlihat.
Diandra membuang wajah tidak mau melihat interaksi di depan sana. Interaksi yang membuatnya sakit hati dan hancur dengan cara yang berbagai macam. Di tambah, perutnya terasa sakit sejak semalam. Entah apa yang ia makan, tapi rasa perutnya begitu menyakitkan hingga membuat Diandra hampir jatuh saat naik ke lantai dua karena tidak bisa mengimbangi keseimbangan tubuh akibat rasa sakit yang ia terima dari perutnya.
"Diandra!!" Selina berteriak. Duduk di kursinya dengan tubuh yang menghadap padanya.
"Dian kenapa, ih? Dari kemarin diemin kita? Kita buat salah, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Ficção AdolescenteSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)