Bagian 38

370 32 2
                                        

Kamar putrinya kini menjadi tempat singgah seorang Lio. Duduk di kursi belajar memandangi Diandra yang masih terlelap karena efek dari obat tidur yang di berikan dokter tadi dengan fungsi untuk menentralisirkan segalanya.

Lio memandang buku-buku di depannya. Banyak sekali tumpukkan buku yang begitu tebal dan rata-rata buku tebal itu dirinya yang membeli. Pandangan mata Lio terfokus pada satu buku bersampul hitam polos dengan nama Povera Ragazza yang di tulis dengan spidol putih menjadi pusat perhatiannya.

Lio mengambil buku itu, membuka halaman pertama yang langsung terpampang foto Aruna, Diandra dan juga dirinya. Ketiga foto itu bukanlah murni foto bertiga, melainkan beberapa foto yang Diandra satukan dengan bermodal gunting dan tentu saja lem. Di bawah foto itu ada sebuah kalimat yang menyentuh hati seorang Lio.

Jika Tuhan tidak mengizinkan Bunda dan Ayah bersatu, maka Tuhan izinkan aku untuk menempel foto kalian di buku ini tanpa sepengetahuan Ayah.

Bunda, terima kasih karena meninggalkan beberapa foto Bunda di dalam laci kamar Bunda. Terima kasih juga telah melahirkanku walau Bunda tidak sempat merawatku.

Ayah, maaf jika aku belum bisa jadi anak yang Ayah inginkan. Tapi aku mohon, tolong sayangi aku dan berikan aku perhatian walau hanya sekedar kalimat 'Kamu sudah makan.'

Lio menonggakkan kepala sebelum membalik halaman kedua.

Bunda, maaf. Aku merobek beberapa lembar kertas ini karena sudah penuh dengan keluhan yang setiap saat aku tulis di buku ini. Maaf juga, Bunda. Aku belum bisa jadi anak yang pintar untuk Ayah.

Bunda, hari ini aku mendapatkan nilai yang amat buruk. Tujuh puluh. Maaf, ya, Bunda. Lagi-lagi aku mengecewakanmu. Aku lupa belajar semalem, aku ketiduran karena pagi harinya aku sibuk membantu Nenek. Ayah marah, Bund. Ayah ajak aku ke hotel yang biasa kami kunjungi, Ayah memukulku habis-habisan tanpa ampun. Pinggangku terluka, Bund. Ayah menyambukku dengan ikat pinggangnya.

Bunda, dadaku sakit. Semalaman aku di tinggal di dalam kamar hotel itu tanpa di beri makan dan minum. Bunda, dadaku sakit. Sesak sekali Bunda. Bunda, apa di dunia ini, hanya sedikit orang yang menyanyangiku?

Tanpa sadar, air mata yang sempat Lio tahan mengalir. Pria itu mengusap kasar air mata sialan yang sudah lama tidak pernah keluar. Lio melanjutkan lembar ketiga. Ada sebuah foto rumah. Rumah yang Diandra tempati sekarang.

Bunda. Aku rindu Bunda. Sudah enam bulan aku tidak mengunjungi Bunda dan menulis keluhanku di buku ini. Bunda tau, tadi aku habis di ajak Ayah melihat sebuah rumah yang bagus. Ayah bilang, itu untukku.

Bagus, kan, Bund, rumahnya.

Lio membalik lembar ketiga.

Bunda. Malam ini Ayah datang, memberikanku buku tebal yang lagi-lagi untuk lomba. Aku ga tau harus membangkang atau menurut. Tapi Bunda, aku capek, aku mau istirahat.

Boleh ga, Dian ikut Bunda?

Sudah cukup. Lio menutup buku hitam itu kemudian ia menaruhnya di tempat semula. Tubuhnya bangkit dan berdiri di depan anaknya yang masih tertidur.

Lio berjongkok, memposisikan wajahnya berhadapan dengan wajah tenang milik Diandra. Tangannya mengusap pucuk kepala anak perempuannya berulang kali.

"Dian. Maafin saya." kalimat itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya. Rasa bersalahnya sudah di katakan sangat terlambat, tapi mau bagaimana pun ia harus tetap meminta maaf pada anaknya.

"Dian. Bangun yuk. Ayah mau minta maaf."

Lia di depan pintu tersenyum melihat penyesalan kembarannya. Lio terlihat begitu menyesal karena raut wajahnya berubah dratis dari sebelumnya.

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang