Ayah : Cepat keluar. Saya tunggu di mobil.
Diandra terdiam. Ada apaan ini? Sudah hampir seminggu ayahnya tidak menghubunginya, lalu tiba-tiba memberi kabar menyatakan bahwa dirinya di tunggu di mobil.
Ini bukan kabar buruk, kan?
Dengan langkah cepatnya Diandra berjalan keluar dari area sekolah. Jika berurusan dengan ayahnya maka jangan pernah coba-coba untuk membuang-buang waktu. Ayahnya sangat benci orang yang tidak tepat waktu.
Sampai di depan gerbang, kaki Diandra terhenti sebentar. Benar, ada mobil ayahnya yang terparkir tidak jauh dari kakinya berpijak. Setelah mengumpulkan segala niat akhirnya Diandra berjalan mendekat pada mobil, mengetuk kaca cendela tidak lama cendela di buka.
"Masuk." kata ayahnya dari dalam.
Diandra akhirnya membuka pintu mobil bagian belakang dan terkejut ternyata bukan hanya ada ayahnya saja di dalam, ada Arga dan juga ibu tirinya. Fiona.
"Papih! Ngapain sih, ngajak dia masuk?!" kata Arga ketika melihat Diandra.
Lio hanya melirik sekilas anak laki-lakinya. Lalu ia mulai menjalankan mobil ketika pintu sudah di tutup.
"Kamu ngapain sih, Mas. Anak itu ngapain kamu ajak?!"
Sambil menyetir Lio menyempatkan untuk melirik istrinya yang duduk di kursi penumpang sampingnya. "Dian anak saya. Jadi, terserah mau saya ajak atau tidak."
Ucapan Lio membuat Diandra di belakang tersenyum. Ia tidak menyangka jika akhirnya kalimat itu keluar dari mulut ayahnya secara langsung. Selama ini Diandra selalu menunggu kalimat itu.
Arga yang melihat saudara tirinya tersenyum nampak marah. Arga tidak suka melihat Diandra bahagia terlebih bahagia karena ulah Lio.
"Ga usah senyum-senyum, lo! Jijik gue lihat muka lo." kalimat Arga barusan menjadi awal dari perdebatan yang akan terjadi selanjutnya.
Diandra hanya tersenyum lalu bibirnya terbuka untuk membalas ucapan Arga tadi. "Ga usah di lihat. Gue ga nyuruh lo lihat muka gue juga, kan."
"Heh!" Arga mengubah posisi duduknya jadi lebih dekat dengan Diandra. Telunjuknya mengarah pada wajah Diandra. "Lo itu cuma tamu di keluarga gue, ga usah sok."
"Lo yang tamu di hidup gue dan Ayah." balasannya kali ini mengundang amarah Fiona yang sejak tadi menyimak.
"Hai! Jaga ucapan kamu! Anak saya benar. Kamu yang tamu dan seharusnya kamu itu diam. Tidak usah banyak bicara!" sambar Fiona marah.
Sebagai anak baik yang menghargai orang yang lebih tua. Diandra hanya bisa diam tapi bibirnya tersenyum. Bertindak seolah baik-baik saja padahal hatinya sedikit terluka.
"Baik Tante, Bunda saya dan saya adalah tamu bagi Ayah," bibirbya terkantup sebentar. Matanya melirik kaca mobil yang tergantung di atas untuk mengetahui respon ayahnya. Mata ayahnya terpaku. "Tamu yang tidak di harapkan tapi keadaan yang memaksa untuk menerima."
Fiona dan Arga menatap Diandra bingung.
"Bunda saya adalah tamu yang semula Ayah sayang, Ayah perhatikan dan Ayah jaga dengan baik supaya tamunya merasa nyaman berada di dekat Ayah. Sedangkan Tante adalah tamu yang di paksa masuk ke dalam rumah oleh pemilik asli rumah tersebut. Ayah sebagai anak dari pemilik rumah tersebut hanya bisa menerima Tante tanpa mampu menolak. Kenapa? Karena yang berhak atas Ayah adalah pemilik asli rumah yang Ayah singgahi. Kakek dan Nenek." gadis itu membasahi bibirnya.
"Kalian sama. Hanya saja jalannya berbeda. Bunda, di benci Ayah karena terobsesi dengan Ayah hingga melakukan cara apapun untuk tetap berada di dekat Ayah. Sedangkan Tante, Tante memaksa kehendak. Tante memaksa Ayah untuk mencintai Tante tanpa Tante tau sebenarnya hati Ayah bukan untuk Tante." Diandra menarik napas. "Jadi, saya harap Tante bisa menerima saya setidaknya biarkan saya berada di dekat Ayah walau hanya lima menit lamanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)