Bagian 26

307 27 0
                                        

Akhirnya. Pertandingan yang sangat panjang sudah terselesaikan. SMA Mutiara kembali mengharumkan nama sekolah dengan juara pertama yang di raih. Kini Diandra ada di dalam mobil bersama Abila yang tadi menonton perlombaannya bersama dengan tante Lia dan juga ayahnya.

"Mukanya kok di tekuk gitu? Kenapa?" sambil menyetir Abila bertanya pada keponakannya.

Diandra ikut menatap Diandra lalu menggeleng. "Ga kok, Tan. Dian cuma sedih aja karena respon Ayah dan ada masalah pribadi sedikit."

Abila menghela. Permasalah remaja memang begitu sulit untuk terselesaikan hanya dengan mulut.

"Tante ga tau apa yang ada di pikiran kamu sekarang. Tante cuma bisa nasihatin kamu untuk masalah Ayah kamu. Lio memang seperti itu, sikapnya memang dingin dan selalu bertingkah semaunya. Jadi, maklumin aja, ya. Yang terpenting Ayah kamu senang."

Abila tersenyum.

"Satu lagi. Cerita sama Tante kalo ada masalah, ya. Jangan di pendam. Terutama soal Ayah kamu. Kalau sampai dia main tangan sama kamu, kamu harus segera bilang sama Tante. Paham?"

Dengan senyum paksanya Diandra mengangguk. Ia mengalihkan wajah pada cendela mobil mencari ketenangan.

Saat babak ketiga berhasil ia lewati, Diandra tidak henti-hentinya tersenyum. Bukan karena ia sombong sebab sudah berhasil melangkah ke tingkat terakhir, melainkan ia bangga pada dirinya sendiri.

Kini, ia sedang berada di depan meja dengan tombol pencet yang akan di gunakan untuk menjawab soal. Diandra menatap kiri dan kanannya di mana ada dua sekolah yang berhasil menjadi lawan tandingnya di babak penentuan ini.

"Baik anak-anak hebat yang sudah berhasil masuk ke babak ini. Kalian adalah siswa siswi yang sangat hebat karena sudah berhasil sampai di sini. Saya selaku MC yang mengikuti perjuangan kalian sejak pagi merasa bangga pada kalian berlima terutama Diandra dari perwakilan SMA Mutiara."

Diandra di podium mini itu hanya membalas dengan tundukan kepala sopan.

"Kamu adalah satu-satunya perwakilan yang bermain seorang diri di dalam acara ganda. Kamu hebat karena berhasil mengalahkan tujuh belas sekolah dengan kemampuan kamu." MC itu melirik barisan penonton SMA Mutiara yang sedang berisik.

"Untuk para guru dan teman-teman Diandra, semangatnya jangan pernah di kendurin ya. Diandra butuh kalian."

"Huuuuooooo!"

Setelah MC berkata seperti itu, sontak sorakkan senang terdengar.

"Ayah dan Ibu kalian pasti bangga dengan pencapaian kalian."

Perkataan dari MC tadi membuat Diandra secara spontan menatap kursi penonton lebih tepatnya pada sosok pria berpakaian rapih yang entah datang sejak kapan. Lio.

'Ayah saya tidak sebangga itu, Pak.'

"Baik. Saya akan jelaskan peraturan main di babak penentuan ini." MC mengambil sebuah kertas yang baru saja di berikan oleh seorang panitia lomba ini. "Kami akan berikan lima pertanyaan untuk kalian di mana cara mainnya adalah cepat-cepatan. Kalian di wajibkan untuk memencet tombol yang ada di depan kalian lebih dahulu baru bisa menjawab. Mengerti?"

Ketiga team dengan Diandra seorang diri yang bergender perempuan itu hanya mengangguk.

"Bersiap lah."

"Di sebut apakah organisasi rukun tetangga (RT) pada masa kedudukan Jepang?"

Tett!

Bel milik Diandra di pencet lebih dahulu membuat fokus MC ada pada Diandra. "Okay! SMA Mutiara. Apa jawabanmu?"

"Tonarigumi."

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang