Ketiga gadis itu kini sudah ada di dalam UKS berhadapan langsung dengan guru BK dan juga guru bagian kesiswaan. Ketiga gadis itu berdiri dengan wajah yang di tundukkan mendengar setiap ucapan yang di keluarkan oleh dua guru di hadapan mereka.
Sintiya, Selina serta Cakra memilih menyaksikan terlebih Sintiya yang menatap dengan intens. Diandra hanya sesekali melirik jika mendengar jawaban yang kurang enak di telinganya.
Kini Diandra sudah merasa enakkan setelah di beri segelas teh hangat dan juga di beri obat pereda rasa nyeri oleh dokter tadi. Dokter berkata jika tidak ada luka yang serius. Abila hanya pusing karena kepalanya terbentur dinding cukup keras dan masalah sudut bibir serta goresan di kening itu masih belum di ketahui karena sejak awal sadar Diandra memilih diam.
"Ceritakan kepada Ibu bagaimana bisa kalian melakukan itu pada Diandra."
Ketiga gadis itu membisu.
"Mau bercerita atau saya buatkan surat panggilan orang tua?" ancam bu Maya selaku guru BK.
Latifa menganggat kepala lebih dulu. Walau ragu ia harus segera memberikan kebenaran sebelum surat panggilan ada di tangan ke dua orang tuanya.
"Maaf, Bu. Saya tidak memiliki dendam atau masalah pribadi dengan Diandra seperti yang Ibu katakan tadi. Saya hanya di suruh Claudia," Latifa melirik Queen. "Saya dan Queen tidak melakukan apapun selain memegangi tangan Diandra. Semuanya Claudia yang lakukan." setelah itu Latifa kembali menunduk takut.
"Queen juga sama kaya Latifa, Bu. Kita berdua cuma ngikut Claudia aja dan semua itu kami lakukan karena kami malas mendengar ocehan Clau, Bu." Queen menimpali. "Clau kalo ngoceh kaya nenek-nenek. Berisik banget." lanjutnya.
Bu Maya dan bu Nadia mengangguk-angguk. Mereka melirik Claudia yang nampak santai tidak seperti teman-temannya yang sudah mulai panik. Sepertinya Claudia memang tipikal anak bandel tingkat dewa.
"Kamu ga mau cerita?"
Claudia menghela. "Saya ngelakuin tanpa dendam atau hal lainnya. Saya ngelakin ini karena cinta."
"Cinta? Haha. Basi!"
Kaki Selina di injak oleh Sintiya. Temannya ini memang sangat sulit untuk mengendalikan emosi. Selina selalu bertingkah sesuka hatinya jika sedang marah tanpa memperdulikan ada siapa di dekatnya.
"Lanjut, Clau," pinta bu Maya.
"Saya ... saya lakuin ini demi bisa jadi pacarnya Arga, Bu."
Kedua guru dan tiga remaja itu tecengang. Apa maksudnya? Sedangkan Diandra mulai mengerti dengan strategi yang di buat oleh anak dari ayahnya itu.
"Baik. Saya sudah mengerti. Sebaiknya kalian ikut kami ke ruang BK dan kita selesaikan semuanya di sana. Kita pastikan hukuman apa yang pantas untuk kalian dapatkan. Panggil Arga juga untuk menghadap saya." bu Maya berdiri dari duduk bersama dengan bu Nadia. Keduanya menghampiri Diandra.
"Kami permisi dulu, ya, Dian.
Kami akan tindak lanjuti masalah ini dan buat keadilan buat kamu, ya?"
Diandra mengangguk. Mulutnya di biarkan membisu sampai ketiga gadis dan dua guru itu keluar. Cakra mendekat pada Diandra, memberikan segelas air putih dan di terima oleh Diandra.
"Cerita, kenapa lo bisa di sana." paksa Cakra.
Diandra memejamkan matanya sambil mengambil napas. Matanya terbuka lagi siap untuk menceritakan kejadian tadi sebelum dirinya berakhir di ruangan kosong itu.
Diandra yang baru saja keluar dari ruang BK itu berniat untuk segera masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran matematika. Ia sudah bolos sampai jam ke dua dan itu tidak bisa di biarkan berlanjut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Novela JuvenilSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)