Sekolah di buat geger dengan berita yang tiba-tiba saja muncul tanpa tau siapa penyebabnya. SMA Mutiara di buat gempar dengan kabar terbaru mengenai kasus peneroran Diandra yang sudah menyebar dengan begitu cepat mengalahkan kecepatan tornado.
Bisik-bisik dengan tema perghibahan terdengar dari lorong bawah sampai atas. Gevan yang lewat nampak bingung dan bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa ketika dirinya lewat siswa siswi memandang dirinya dengan pandangan rendah dan kebencian?
Apa kegegeran ini di sebabkan olehnya?
Gevan masuk ke dalam kelas seperti biasa. Duduk di kursinya dan bersiap untuk membaca buku-buku yang ia bawa atau ia pinjam dari perpustakaan sekolah.
Baru saja ingin berkonsentrasi membaca, suara teman-teman sekelasnya mengacaukan konsentrasi yang ia miliki.
Gevan menatap orang-orang yang berkumpul di depan mejanya dengan bingung. Ada apa dengan mereka semua?
"Lo kok tega sih sama Diandra, Gev?"
"Mentang-mentang di tolak, lo jadi seenaknya neror dia pakai cara yang murahan."
"Banci banget lo!"
"Nyesel kemarin gue dukung lo sama Diandra."
Beberapa suara terdengar di telinga Gevan. "Ada apaan?" tanyanya dengan polos.
"Lo neror Diandra, kan?"
"Pasti Diandra ga masuk gara-gara lo, nih!"
Gevan menghela kemudian menggeleng. "Gue ga tau apapun tentang teror. Satu lagi, walau di tolak, gue ga akan segila itu buat bikin teror yang bikin Diandra ketakutan." jelasnya masuk di akal.
"Halah! Pinter bohong lo!" Prapti berseruh dari tempatnya.
"Jujur aja kali, Gev. Ga di apa-apain ini, paling lo di benci Diandra." Mia mengompori.
"Ga usah asal nuduh. Gue yakin bukan Gevan." suara Kinan masuk. Gadis itu duduk di kursinya dengan tenang tanpa ikut bergerombol seperti teman-teman yang lainnya.
"Jangan sok yakin lo, Nan. Kalo ketahuan Gevan pelakunya, gimana?" Putra ikut memberi suara. Kemana Putra yang kemarin begitu kuat membangun benteng pembela untuk Gevan?
Kinan acuh, mengangkat kedua bahunya. "Paling di panggil BK."
Gevan menghela. "Bisa bubar ga?"
"Kenapa? Takut lo?" Zunaidi menantang.
Gevan terkekeh kesal. Laki-laki itu tidak mengeluarkan suara, hanya terkekeh sambil memperhatikan wajah-wajah teman-teman sekelasnya.
"Ngaku dan minta maaf sama Diandra!" suara Sintiya terdengar.
Sintiya, Selina, Cakra, Satria dan Baihaqi masuk ke dalam kelas. Berdiri di meja Gevan dengan wajah-wajah percaya diri yang membuat Gevan enag.
"Mau apa?" tanya Gevan kalem pada lima orang di depannya.
"Lo pelaku di balik peneroran Diandra, kan?" tuduh Satria langsung to the point.
"Apa buktinya?" Gevan bertanya.
Baihaqi meletakan foto dengan Diandra sebagai objek di dalamnya. "Lihat, ini ulah lo, kan?"
"Lo sengaja lakuin ini karena lo sakit hati, kan?" Satria ambil suara lagi. "Lo taruh foto Diandra dengan muka di coret merah dengan arti kalo lo udah naksir dia dari kelas sepuluh dan tanda merah ini terbukti kalo lo mau bikin Diandra menderita. Sedangkan darah-darahan yang lo bikin itu melambangkan sebuah kehancuran yang lo rasa. Darah itu lo bikin mengalir sebab lo mau rasa sakit lo berjalan ke orang lain, ga stuck di diri lo aja." jelas Satria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)