"Iya, gue masuk dulu, ya."
Laki-laki di depannya mengangguk membiarkan Diandra masuk kembali ke dalam rumah besar milik Gibran. Diandra dengan gamis hitam dan juga pasmina berwarna senada yang ia pakai dengan rapih itu memasuki rumah setelah tadi menemui Cakra.
Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa yang ada. Menunggu kehadiran seseorang. Tasya yang sejak awal duduk di sofa memperhatikan cucuknya dalam diam. Ia tidak bisa berkata banyak atau membuat Diandra untuk tetap stay di rumah ini, tidak bisa.
Diandra nampak berat meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama delapan belas tahun terakhir. Segalanya Diandra tumpahkan pada setiap sudut rumah ini dan sekarang dirinya di paksa untuk meninggalkan rumah dengan paksa.
"Barangnya sudah selesai di packing semua?"
Diandra menonggak lalu mengangguk. Tidak ada suara yang gadis delapan belas tahun itu keluarkan. Pikirannya masih terus berputar pada hal negatif.
"Besok Nenek bantuin rapihin rumah, ya?"
Gelengan kepala menjadi jawaban untuk pertanyaan Tasya. Diandra meletakan ponselnya yang sejak tadi ia jadikan pelampiasan amarah. Ponsel hitam tidak bersalah itu, tadi ia genggam dengan kuat bahkan sesekali di benturkan ke suatu barang.
"Dian mau pindah malam ini aja, Nek."
Neneknya mengerjit, "Lho, kenapa?"
"Biar besok Dian ga terlalu cape bersih-bersihnya. Besoknya lagi kan udah sekolah."
"Nenek bantuin, Dian. Ga usah takut."
"Ga usah, Nek. Dian harus belajar mandiri mulai sekarang. Dian mau mulai dari pindahan rumah." Dian menatap mata neneknya. "Nenek boleh dateng kalo semua sudah bersih, ya, Nek."
Ragazza
Aruna Lika Amira
Binti
Asraf Pangestu
Gundukan tanah yang sudah lama sekali tidak ia datangi ini adalah makan milik sang bunda. Rumah kewah yang di dedikasikan untuk bundanya. Aruna adalah bundanya. Seorang wanita luar biasa yang melahirkannya hingga mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Diandra terduduk di samping nisan milik bundanya dengan hening tanpa suara. Kedua tangannya mulai bergerak membersihkan sekitaran makan. Mencabuti rumput liar yang tidak seharusnya ada di makan bundanya.
Nenek dan tante dari pihak ayahnya hanya diam membiarkan Diandra melakukan apa yang gadis itu suka. Lia--kembaran ayahnya memberikan sebuah buku yasin yang langsung di terima oleh Diandra.
"Bismillahhirohmannirohin."
Neneknya yang berjongkok di depannya memulai doa. Baik Diandra maupun Lia diam mendengarkan setiap kata yang di keluarkan oleh Tasya.
Surah Yasin sudah di bacakan dengan merdu. Diandra begitu khusuk membaca setiap ayat dari yasin tersebut. Ia ingin sang bunda bahagia di alamnya tanpa di di siksa oleh Tuhan.
Ia berharap Tuhan mau memberikan sedikit ampunan untuk bundanya. Setidaknya bundanya kembali dalam pakuan Tuhan karena melahirkannya, jadi, Diandra selalu memohon agar Tuhan berbaik hati.
Sedikit banyak Diandra tau tentang kisah hidup wanita hebat yang sudah melahirkannya. Kisahnya memang tidak begitu baik untuk di kenang, namun seburuk apapun itu Aruna tetaplah bundanya.
Wanita yang rela mengandungnya dan menahan malu selama sembilan bulan lamanya.
Wanita yang mempertahankan hidupnya walau sang suami kerap menelantarkannya dan menyalahkan atas hadirnya Diandra dalam perut Aruna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Fiksi RemajaSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)