Bagian 31

315 28 3
                                        

Kantin sekolah sisi pojok begitu penuh dan ramai di isi oleh anak-anak Dark Lion. Diandra yang ingin memesan makanan dan berniat untuk menenangkan fikiran setelah banyak berfikir beberapa saat lalu tapi urung ketika mendapati Cakra ada di pojok sana dengan sebatang benda bernikotin yang tersemat di pinggir bibirnya.

Potongan tambahan. Cakra merokok, padahal laki-laki itu benci rokok.

Tubuh Diandra memutar, berbalik tujuan tidak jadi membeli makan. Baihaqi yang sejak awal memperhatikan Diandra menatap tidak tega gadis itu. Gadis baik hati yang di lakukan semena-mena oleh pacarnya sendiri. Pandangan mata Baihaqi turun pada Cakra yang ada di depannya, melakukan aktivitas sesuai keinginannya.

"Ga kebayang sih, gimana sakitnya Diandra pas tau kebenarannya,"

Ucapan Baihaqi mengundang perhatian Satria tapi tidak dengan Cakra. Satria mengangguki ucapan temannya yang memikirkan perasaan Diandra.

"Gue lebih ga kebayang sama apa yang temen lo lakuin. Bisa-bisanya, dengan terang-terangan dia nunjukin kemesraannya sama Sintiya. Kan sakit!" kali ini Baihaqi sependapat dengan Satria. Rumor tentang Cakra yang di beritakan bersama dengan Sintiya sudah tersebar luas di sekolah ini bahkan anak-anak SMA Mutiara sudah mencap Cakra laki-laki sialan yang rela meninggalkan Diandra yang sudah menemaninya sejak lama demi wanita yang baru datang. Sintiya.

"Urus aja urusan lo sendiri. Lo juga ga bakal bisa ada di posisi gue dalam jangka waktu yang lama." ceplos Cakra.

Satria dan Baihaqi tertawa.

"Sebenarnya bukan masalah urus-uruasan sendiri, nih, ya, Boss. Tapi ini urusan hati." ujar Satria.

"Kalo dari awal lo udah tau bagaimana kedepannya, berati lo juga udah tau konsekuensinya. Seharusnya lo itu berterima kasih karena cuma di-"

"Bisa, ga? Ga usah banyak bacot kalo lagi di luar?!" kata Cakra memotong ucapan Baihaqi. Baihaqi menghela napas. Sulit sekali memberitau Cakra yang notabenya memiliki sifat kasar dan emosian.

"Di kasih tau malah emosi. Seharusnya lo berterima kasih sama kita, Boss. Lo ga tau aja gimana sakitnya di khianati pacar sendiri." ceramah Satria.

Telunjuknya menunjuk dirinya sendiri. "Lihat gue Boss. Gue udah dua tahun sama Geby. Tiba-tiba dia mutusin gue cuma dengan alasan bosan. Seminggu kemudian satu sekolah heboh dengan kabar kalo Geby tunangan sama anak temen nyokap bokapnya. Gue? Sakit, Boss! Perjuangan gue selama dua tahun sia-sia. Susah senengnya kita dia lupain begitu aja." menjeda. "Dan lo, lo masih mau ngelakuin hal yang serupa padahal contoh udah di depan mata?" kepala Satria menggeleng-geleng. "Parah sih."

"Bacot anjing!" komentar Cakra. Laki-laki itu mengambil sebatang benda bernikotin lagi dari dalam kantong seragamnya lalu menyalahkannya.

"Gue tau, lo cinta mampus sama Sintiya. Bahkan bisa di katakan lo udah ketemu ratu lo. Tapi nih, ya, Boss. Gue cuma mau ngasih tau dan jelasin dari sudut pandang laki-laki," Baihaqi mengambil napas. "Jangan buang puntung rokok di atas tumpukkan kertas. Setidaknya lo harus singkirin dulu kertasnya baru lo bisa buang puntung rokok berbara itu."

"Dari awal tujuan lo apa, Boss? Kalo lo kaya gini, sama aja lo nyakitin dua orang sekaligus. Lo ga bisa egois."

Cakra membuang rokok yang masih panjang ke sembarang arah. Menginjak rokok itu lalu beranjak dari duduk. Ia sudah tidak memiliki kesabaran lagi. Bisa bahaya jika dirinya tetap duduk di bangku yang sama dengan Satria dan Baihaqi.

Kedua teman Cakra memperhatikan laki-laki itu dengan pandangan kasihan.

Ragazza

Ruang loker ramai dengan adanya suatu cairan berwarna merah yang mengalir dari dalam salah satu loker milik siswi kelas dua belas. Diandra datang dengan Selina dan juga Sintiya yang memaksanya untuk ke sini.

Povera Ragazza [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang