Bagian 22

306 20 1
                                        

Keberadaa motor metik yang sejak tadi mengikutinya membuat Diandra geram. Ia sudah menolak tawaran orang itu untuk di antar olehnya tapi laki-laki di balik helm hitam itu keukeh memintanya untuk naik.

Diandra yang sudah kesal akhirnya memberhentikan laju jalannya. Ia menatap laki-laki yang kini berdiri di depannya dengan malas.

"Gue bisa pulang sendiri, Gev!"

"Gue anter." kata Gevan menyerahkan helm berwarna pink pada Diandra.

Diandra belum mengambil helm itu. Ia masih ingin mempertahankan keputusannya untuk pulang dengan menggunakan kakinya sendiri.

"Gue bisa pulang sendiri, Gev. Lo pulang duluan aja."

"Rasanya emang sakit di tinggal sendiri di tengah jalan yang ramai. Tapi lo ga sendiri, Ra."

Perkataan Gevan membuat Diandra terdiam dengan pikirannya sendiri. Apa yang di katakan oleh Gevan memang seratus persen benar, tapi yang menjadi pertanyaannya hanya satu. Siapa yang menemaninya? Semuanya tidak ada yang perduli dengannya.

Apa mungkin kedua temannya? Diandra tidak yakin dengan itu. Ayahnya? Mungkin akan tertawa jika ia menceritakan kejadian tadi. Kakek dan Neneknya? Itu juga tidak yakin. Kakek dan Neneknya adalah tim kerja baru pacaran.

"Gue sendiri, Gev."

Gevan menggeleng. Laki-laki berkaca mata dengan kepala terlapis helm itu nampak dalam menatap Diandra.

"Ada gue di sini."

Diandra diam.

"Maaf kalo gue lancang, tapi dari awal keluar gerbang gue udah ngikutin kalian dan tanpa sengaja gue dengar perdebatan kalian."

"Gue ga mau banyak ngomong, gue cuma mau lo lupain masalah tadi dan fokus dengan apa yang lagi lo kejar sekarang." lanjut Gevan.

"Untuk sekarang Cakra adalah orang yang ga penting buat lo. Lomba lo udah di depan mata, Ra. Semua bisa berantakan cuma gara-gara cowok ga jelas kaya Cakra. Udah, lupain dulu masalah yang ada dan lo fokus untuk lusa." tangan Gevan menyodorkan kembali helm yang belum sempat di terima. Diandra menerimanya.

"Semuanya emang ga mudah, tapi kalo mau dan ingin berusaha, segalanya akan berjalan dengan lancar." kata Gevan lagi.

Diandra tersenyum tipis. Ucapan Gevan benar. Masalah Cakra adalah masalah yang bisa di urus kapan saja, tapi untuk urusan lomba? Itu tidak bisa.

"Jadi gimana? Mau pulang atau berdiri disini?" tanya Gevan mengundang kekeh untuk Diandra.

Ragazza

"Untung lo punya temen perhatian kaya gue."

Selina berdecih tidak suka. Gadis itu tanpa aba-aba naik ke atas motor Putra. "Ayo!"

"Galak bener. Yang kalem, kek!" protes Putra pada Selina.

"Ah, bacot. Lo ga tau apa gue lagi shok. Ayo cepetan pulang sebelum gue pingsan di sini!" heboh Selina.

Putra menatap pantulan gadis di belakangnya melalui kaca spion dengan alis bersatu. Benar, ia baru menyadari jika wajah Selina sedikit tegang. Ada apa dengan gadis ini?

"Kenapa?"

Selina menggeleng. "Gue ga bisa cerita. Intinya ini kebenaran yang bikin gue mau meninggoy semenit. Kaget luar biasa gue!"

Dengan tangan yang menyodorkan helm miliknya yang semula ada di kepala laki-laki itu, Putra bertanya. "Apaan sih! Bikin penasaran aja!"

"Intinya rahasia!" tutur Selina sambil memakai helm pemberian Putra. "Lo ga boleh tau. Alamat satu sekolah rame kalo lo tau!"

Povera Ragazza [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang