Diandra berjalan dengan wajah yang menyimpan banyak pertanyaan. Saat turun dari motor yang di kendarai oleh Cakra, Diandra mulai menekuk wajahnya.
Entah, ini perasaannya saja atau sungguhan.
Cakra sama sekali belum mengucapkan 'Selamat' untuknya. Biasanya Cakra selalu menjadi orang pertama dalam setiap momen, tapi kali ini Diandra rasa Cakra melupakan hari ulang tahunnya yang ke delapan belas.
Diandra melangkah menuju kelasnya dengan kesal. Bisa-bisanya Cakra melupakan hari bahagia untuknya.
Diandra terkejut ketika dengan tiba-tiba lengannya di sentuh oleh seseorang dari belakang. Ketika Diandra menoleh rupanya Cakra yang melakukannya.
"Kenapa?" tanyanya.
Cakra menghembuskan napas. "Ikut gue." ucapnya langsung menarik tangan Diandra untuk mengikuti langkah lebar laki-laki itu.
Diandra di bawa ke sebuah lorong yang sangat asing untuknya. Dirinya sudah hampir dua tahun lebih sekolah di sini tapi baru sekarang ia tau jika ada lorong seperti ini di sekolah.
"Ini ... tempat apa?"
Cakra diam dengan wajah datarnya. Ia membuka sebuah pintu dan langsung terlihat dua teman Diandra dengan Sintiya yang membawa kue dan Selina yang tersenyum lebar padanya dengan tangan berisi tumpukkan kado.
Air mata Diandra lolos begitu saja. Ia tidak menyangka jika pacar dan ke dua temannya akan melakukan hal ini. Hal sederhana yang bisa membuatnya bahagia seumur hidup.
Delapan belas tahun hidupnya dan baru kali ini ia merasa di perlakukan layaknya manusia oleh seseorang. Tidak. Sebelum mereka selalu ada ada kakek, nenek, tante Lia beserta om Kenan dan tentu saja sang segalanya untuk Diandra di dunia ini. Tante Abila dan juga om Alga.
Walau mereka tidak pernah membuat hal semacam ini tapi Diandra tau mereka selalu menyanyanginya.
Sintiya maju, menyodorkan kue dengan ukuran sedang pada Diandra tentu dengan lilin yang menyala.
"Selamat ulang tahun Dian. Wiss you all the best and Allah bless you." kata Sintiya.
Diandra tersenyum lalu memejamkan matanya untuk meminta pada Tuhan agar segela hidupnya di mudahkan. Diandra meniup lilin berangka 18 sampai mati. Ketika lilin sudah padan Cakra bertepuk tangan.
Cakra maju, memeluk Diandra singkat. Memegang kedua bahu Diandra lalu mengucapkan satu kalimat. "Selamat ulang tahun, Di. Panjang umur, ya, sayang. Gue akan selalu ada untuk lo." katanya membuat Diandra tersentuh.
Selina dan Sintiya tersenyum melihat itu. Mereka berduq tidak bisa berbuat banyak karena tangan mereka penuh oleh barang.
Sintiya begitu bahagia melihat Diandra dan Cakra yang berdiri tepat di depannya. Menjadi teman Diandra sejak awal sekolah membuatnya sedikit paham dengan kehidupan Diandra.
Sintita terdiam melihat Cakra mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
"Chiko."
"Apaan, Sin?" Selina bertanya. Sekilas tadi ia mendengar Sintiya mengucapkan sesuatu.
"Oh, enggak. Itu kucing yang kemarin gue selamatin." dagunya menunjuk kucing oren yang ada tidak jauh dari mereka.
Selina menggut-manggut. Gadis itu tersenyum lebar ketika melihat Cakra berhasil memasangkan sebuah kalung di leher putih Diandra.
Diandra menyentuh liontin di lehernya. Matanya menatap Cakra penuh dengan ucapan terima kasih. "Terima kasih banyak. Berkat lo gue tau rasanya bahagia."
Cakra mengangguk. Tangannya mengode dua teman pacarnya untuk membawa Diandra kembali ke dalam kelas karena bell baru saja berbunyi.
"Kadonya tinggal sini gapapa, kan, Cak?" Selina bertanya. Tidak mungkin ia membawa tiga kotak dengan salah satunya berukuran besar ke dalam kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Povera Ragazza [Selesai]
Teen FictionSeries # 8 Diandra Larasati *** Hari ulang tahunnya terasa berbeda dari tahun biasanya. Ulang tahunnya yang ke delapan belas seakan menjadi dunia baru untuk Diandra. *** Belum genap usia delapan belas tahun, Diandra di paksa tinggal sendiri oleh s...
![Povera Ragazza [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/281626804-64-k73901.jpg)