Sasa melihat ibunya yang masih sibuk memilah pakaian. Juga Kiki yang masih tidur. Ia pun pergi ke dapur.
"Samchon bikin apa?" Sasa bertanya ke Jimin yang sedang memecah telur.
"Samchon mau bikin castella. Kesukaan eomma Sasa."
"Sasa boleh coba?"
"Pecahin telurnya?"
"Iya."
"Sasa pake celemek dulu biar bajunya nggak kotor." Jimin membersihkan tangannya dan mencari celemek. Tapi tentu saja yang ada ukuran orang dewasa. Tidak ada yang berukuran kecil.
Sasa terpaksa mengenakan celemek yang besar. Tapi Jimin melakukan make over. Lingkar kepala ia ikat dengan karet agar sesuai dengan leher Sasa. Celemek yang sebatas lutut untuk orang dewasa jadi terlalu panjang di tubuh Sasa.
Jimin lalu melipatnya dan menjepitnya dengan jepitan agar Sasa tidak tersandung.
"Sasa sudah cuci tangan?"
"Sudah."
"Tangan kita harus bersih saat membuat cake. Kita nggak ingin ada orang yang sakit saat makan cake buatan kita." Jimin mengingatkan.
"Seperti ini, Sa." Jimin mencontohkan cara memecah telur. Ia bisa saja memecah telur dengan satu tangan seperti chef di TV tetapi sekarang ada Sasa. Jadi, ia mengajari Sasa memecah telur dengan menepuknya di sisi meja.
Sasa mengikuti instruksi Jimin. Sasa mengetuk telur di sisi meja. Tidak berhasil.
"Lebih kuat lagi, Sa."
Kali ini Sasa terlalu kuat mengetuknya. Alhasil telurnya jadi pecah berantakan. Jimin langsung mengambil lap hendak membersihkan pecahan telur.
"Samchon ... Lapnya kasih Sasa. Sasa yang pecahin telurnya. Sasa yang harus bersihin."
Jimin menyerahkan lap ke Sasa. Sasa mulai mengelap. Walaupun tidak terlalu bersih, setidaknya ia sudah bertanggung jawab atas kesalahannya.
Sasa mulai mengetuk telur lagi. Tidak terlalu keras. Juga tidak terlalu pelan. Sasa berhasil memecah telur. Jimin kemudian memasukkan gula pasir ke dalam mangkuk yang berisi telur. Lalu memixernya.
Sasa melihat mixer duduk yang mulai berputar.
"Sasa mau masukin tepungnya?"
Sasa menganggukkan kepalanya.
"Jangan kena adukannya. Agak dekat mangkuk."
Tepung terigu masuk ke dalam mangkuk mixer.
"Setelah itu susu dan parutan lemon, Sa."
Sasa mengambil mangkuk kecil susu cair yang berisi parutan kulit lemon.
Setelah tercampur rata, Jimin mematikan mixer. Ia memasukkan minyak dan madu lalu mengaduknya. Sasa ikut mengaduk sebentar. Cara mengaduk adonan agar menyatu dengan minyak berbeda dengan cara mengaduk gula agar larut di gelas berisi teh. Jadi, harus Jimin yang melakukannya.
Jimin lalu memasukkan adonan ke dalam loyang yang sudah ia lapisi kertas roti lalu memanggangnya.
"Kita tunggu 30 menit, Sa." Jimin menyetel alarm.
Sasa berjinjit ingin melihat adonan tetapi tinggi badan Sasa terlalu kecil untuk melihat loyang berisi adonan di dalam oven.
Jimin menggendong Sasa agar Sasa bisa melihat adonan yang mulai mengembang.
"Wah ..." Sasa melihat adonan yang mulai mengembang.
🌼🌼🌼
"Samchon ... Tae samchon sudah mau panen strawberry. Sasa mau ikut panen di kebun." Sasa memberitahu Jimin.
"Bawa pulang banyak-banyak, Sa. Strawberry nya Tae samchon itu manis dan besar-besar. Nanti samchon buat selai strawberry."
"Nanti Sasa ikut buat, ya samchon. Sasa mau bikin selai buat Daniel."
"Iya. Nanti samchon beritahu Sasa."
Castella akhirnya jadi. Biasanya castella yang sudah jadi harus langsung dibungkus panas-panas dengan cling wrap. Tetapi ia hendak menyajikannya langsung untuk Hana.
"Ini buat eomma?"
"Iya." Jimin menyuapkan satu potong castella untuk Sasa.
"Enak?"
Sasa mengacungkan jempolnya.
"Cake buatan samchon selalu amazing."
Jimin sangat senang mendengar pujian Sasa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.