tamasya malam

265 24 0
                                    

Hari sudah larut malam. Hana, Joon, Sasa dan Kiki sudah tertidur.

Hana merasakan ada pergerakan di ranjangnya. Ia terbangun. Ia bisa melihat Joon yang pergi keluar kamar.

Oppa ...
Ini sudah sangat malam.
Kau mau kemana?
Sudah beberapa hari ini kau keluar malam hari.
Setiap pulang ke rumah, kau selalu terlihat berkeringat.
Apa kau menemui wanita lain?
Apa kau tidur dengan wanita lain?

Sudah sering Hana terbangun di malam hari. Tapi ia tidak mendapati ada Joon di sampingnya. Ia ingin menanyakan langsung ke Joon. Tapi ia takut. Ia takut kalau Joon punya wanita lain.

Sampai saat ini Hana masih merasa rendah diri. Ia masih merasa tidak layak untuk Joon. Masih banyak wanita lain yang pantas untuk Joon.

🌼🌼🌼

Joon berada di kamar. Ia mencari pulpen. Saat ia membuka laci meja kecil di samping tempat tidurnya dan Hana ia melihat diary Hana.

Biasanya Hana mengunci diarynya dengan gembok kecil tapi sepertinya Hana tidak menyadari kalau gemboknya tidak terkunci rapat.

Joon tau ia tidak boleh membacanya. Diary itu privacy Hana. Tapi ia penasaran. Joon membaca diary Hana.

Hari ini aku positif hamil. Aku senang, aku jadi eomma sekarang. Walau hanya dalam waktu sembilan bulan.

Di lembar lainnya ...

Tuan Kim tidak senang dengan berita bahwa aku mengandung bayi perempuan. Kenapa ia tidak menyukainya?

Lembar lainnya ...

Aku rasa aku mencintai tuan Kim. Tapi ... Apa aku pantas untuknya?
Sadar Hana, sadar.
Level tuan Kim itu sangat tinggi.
Ia bagai bintang di langit.
Dan kau itu hanya debu biasa.

Lembar lainnya ...

Aku menyerahkan diriku ke tuan Kim malam ini. Apakah tuan Kim juga mencintaiku?

Hana sudah mencintaiku saat kejadian Kiki? Kenapa aku terlambat menyadarinya?
Seandainya saja saat itu aku mengungkapkan perasaanku, kami tidak akan menderita.

Lembar terakhir ...

Oppa ...
Kenapa kau selalu keluar hampir setiap malam?
Apa kau menemui wanita lain?

Joon melihat ada noda tetesan air.

Hana menangis?

"OPPA ..." Hana segera mengambil diarynya yang dipegang oleh Joon.

"Oppa tidak boleh membacanya" Hana kesal. Diary itu berisi curhatan hatinya. Bila Joon membacanya maka semua rahasianya akan terbongkar.

"Sudah sampai mana oppa membacanya?"
"Semuanya?"

Joon sudah sering membaca dokumen berlembar-lembar di kantor. Jadi, ia sudah terbiasa membaca cepat dan mengingat poin-poin penting.

"Hana ..."
"Nanti malam ..."
"Setelah Sasa dan Kiki tidur, aku akan mengajakmu ke suatu tempat"
"Tempat yang aku selalu datangi saat malam"

"Jadi, oppa sudah membaca semuanya?" muka Hana sangat merah sekarang. Semua rahasianya telah diketahui Joon.

Malam hari ...

Saat Sasa dan Kiki tertidur, Hana dan Joon pergi jalan-jalan berdua.

Joon membonceng Hana dengan sepedanya.

"Oppa ..."
"Kalau capek, ngomong, ya"
"Biar aku yang bonceng oppa" Hana takut jika Joon kelelahan.

"Kau bisa mengemudikan sepeda?" tanya Joon.

"Bisa ... "
"Dulu saat sekolah saat kerja part time, aku sering menggunakan sepeda"

 ""Dulu saat sekolah saat kerja part time, aku sering menggunakan sepeda"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Joon mengarahkan sepedanya menuju ke suatu tempat.

"Hana ..."
"Kaulah orang pertama yang kuajak ke sini"
"Ini tempat rahasiaku"
"Bila aku merasa stress karena urusan pekerjaan atau hanya sekedar merilekskan diri, aku ke sini"

"Sendirian?"

"Sendirian"

"Sungguh?"

"Sungguh"

Tangan Hana terasa dingin. Joon menggenggam tangan Hana dan memasukkannya ke dalam saku coatnya. Tangan Hana terasa hangat. Begitu juga hatinya. Joon ternyata tidak menemui wanita lain seperti yang ia sangka selama ini.

"Ayo kita pulang"
"Bukannya kita harus membuat adik untuk Sasa dan Kiki?" ajak Joon.

"Oppa ..."

Mr. Kim Nam JoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang