Sial ... Sial ...
Joon, kenapa kau begitu merendahkan Hana?
Ia juga wanita yang punya harga diri.
Bukan wanita murahan yang sering kau tiduri.
Yang begitu kau beri uang, selesai semua urusan.Hana ...
Maafkan aku ...Hana pov
🌄🌄🌄
Pagi hari ...
Aku masih sarapan dengan tuan Kim. Setelahnya aku mulai pamit. Aku membawa Sasa. Aku menatap Kiki untuk yang terakhir kalinya.
Mianhae eomma ...
Bukan maksud eomma untuk membuatmu hidup tanpa kasih sayang dari eomma.
Tapi eomma yakin, kasih sayang dari appa pasti lebih dari cukup."Tuan, saya pamit" kataku ke tuan Kim di depan pintu rumah hendak pergi.
"Appa ... Bye ... Bye ..." Sasa melambaikan tangannya ke arah tuan Kim. Ia masih mengira kalau ia hanya ku ajak jalan sebentar.
Tiba-tiba tuan Kim berlutut di depanku. Aku terkejut. Tuan Kim yang selalu bisa membuat orang berlutut di depannya, saat ini ia berlutut di depanku.
Seluruh pelayan melihat ke arah kami. Tidak mempercayai apa yang dilihat oleh penglihatan mereka.
"Aku mohon ..."
"Tetaplah tinggal di sini"
"Demi Kiki ... Bukan ... Demi aku ..."
"Maafkan atas perkataanku kemarin"
"Aku sungguh-sungguh meminta maaf""Tuan ... Berdirilah"
"Semua orang melihat ke arah kita" aku meminta tuan Kim untuk segera berdiri. Ia harus tetap mempunyai wibawa. Tidak baik dilihat bila ia berlutut di depan wanita biasa sepertiku.Tapi tuan Kim tetap berlutut. Aku tidak boleh luluh. Aku harus segera pergi dari rumah tuan Kim.
Sasa mulai menangis. Ia tau ada yang salah. Saat Sasa hendak menuju ke tuan Kim, aku segera menggendongnya.
"Appa ... Appa ..." Sasa mulai menangis.
Aku beranjak pergi.
Selamat tinggal semuanya ...
Akan aku simpan dengan baik semua kenangan indah di rumah ini."Brukkk ..." Aku mendengar sesuatu terjatuh di belakang ku.
Aku menoleh ke belakang. Tuan Kim tergeletak di lantai. Aku segera menghampirinya.
"Tuan ... Tuan ... " Aku menyentuh kening tuan Kim. Panas. Tuan Kim demam.
Pelayan pria segera menghampiri tuan Kim dan membawanya ke kamar.
Kepala pelayan segera menelpon dokter.
Aku mengompres kening tuan Kim. Aku bisa saja segera pergi. Tapi aku tidak bisa meninggalkan tuan Kim dalam keadaan sakit. Bagaimanapun juga ia pernah menolong diriku, dua kali.
Dokter datang. Ia memeriksa tuan Kim.
"Tuan Kim kecapaian. Ia hanya butuh istirahat" kata dokter.
Syukurlah ...
Aku tadi sangat panik.
Aku takut tuan Kim sakit parah.
Hidup jutaan karyawannya ada di pundaknya.Asisten dokter memasang infus di tangan tuan Kim.
Dokter memberi obat untuk diminum bila tuan Kim sudah sadar.
🌼🌼🌼
Tuan Kim mulai tersadar. Panasnya juga sudah turun. Aku hendak pergi dari kamarnya.
Tuan Kim memegang tanganku.
"Saya hanya hendak mengambil bubur untuk tuan" tentu saja aku berbohong. Aku hendak pergi dari rumah. Meninggalkan Kiki dan tuan Kim.
Hana ...
Kau tidak bisa membohongiku ...
Aku tau kau hendak pergi dari sini ...
Meninggalkan diriku dan Kiki ...Tuan Kim menatap pelayan perempuan yang juga berada di kamar kami. Mengisyaratkan agar dia yang mengambil bubur.
Pelayan perempuan itu meninggalkan kamar dan menuju ke dapur. Ia datang dengan membawa nampan berisi bubur.
Aku menyuapi tuan Kim. Ia memakan bubur hanya beberapa sendok.
"Tuan, tidurlah lagi. Anda masih butuh istirahat"
"Aku tidak bisa ..."
"Begitu aku tidur, kau akan pergi"
"Aku takkan bisa melihatmu lagi"
"Saya akan tetap di sini" tentu saja aku bohong. Aku akan pergi, begitu tuan Kim tertidur."Janji?" Tuan Kim mengacungkan jari kelingkingnya. Aku mengunci jari kelingking ku di jari kelingking nya. Menyatukan ibu jari kami.
Kenapa ia jadi manja?
Kenapa ia jadi seperti anak kecil di mataku?
Apa panas tingginya tadi membuat syaraf-syaraf di kepalanya korslet?"Tidurlah kembali, tuan" aku menyelimuti tubuhnya.
