Terbiasa

5.2K 479 33
                                        

Hari demi hari telah berlalu. Semenjak hari itu, Gracia sudah sangat terbiasa dengan situasinya yang selalu mendapatkan perundungan. Entah itu dari Anin, Siska ataupun Shani.

Sebenarnya, memang sedari dulu, ia sudah terbiasa dengan situasinya. Namun, untuk kali ini terasa berbeda. Setiap kali Shani menjalankan sandiwara terhadapnya, yang semula ia merasakan hatinya benar-benar teramat sakit. Justru untuk kali ini, ada sesuatu yang membuatnya ingin tersenyum. Tersenyum kala melihat akting Shani ketika memaki-maki dirinya dihadapan banyak orang, yang beranggapan bahwa Shani tidak melakukannya atas dasar dari dalam hatinya.

Pagi itu dikelas, seperti biasa ketika Gracia sebelum hendak duduk ditempat duduknya, pasti saja mendapati ceceran sampah yang berserakan, serta tulisan-tulisan yang berisi kalimat penghinaan terhadap dirinya.

Karena sudah terbiasa, Gracia tidak merasakan sakit hati sama sekali. Ia tahu, Shani masih harus menjalankan perannya dikelas sebagai sang penindas dirinya. Agar serta merta, sandiwara keduanya masih berjalan dan tetap terjaga seperti biasa.

Gracia melirik ke arah Shani yang sudah tampak duduk dikursi sebelah dirinya. Raut wajah sok cool nan acuh selalu terpancarkan dari seorang Shani Indira Natio. Gracia yang melihat raut wajah Shani itu, sekuat mungkin menahan senyuman manisnya.

Menyadari bahwa Shani mendapatkan lirikan dari kekasihnya, Shani pun menoleh sekilas ke arah Gracia yang berusaha untuk tersenyum. Baik Gracia ataupun Shani, sama-sama ingin saling melontarkan senyuman manisnya satu sama lain, sebagai sapaan awal pertemuannya dikelas.

Shani merogoh saku rok abu-abunya. Lalu, mengeluarkan ponsel miliknya. Jemari tangannya tampak menekan keyboard QWERTY yang menandakan bahwa ia sedang mengetikkan sebuah pesan untuk seseorang. Gracia yang kembali melihat ke arah Shani sekilas, tampak tidak mempedulikan sedang apa kekasihnya itu dengan ponselnya. Ia hanya memfokuskan dirinya untuk membersihkan sampah-sampah yang berserakan ditempat duduknya.

Ting!

Ditengah dirinya sedang membersihkan sampah yang berserakan, ponsel Gracia berbunyi. Gracia lantas menghentikkan aktivitasnya sejenak, dan memeriksa siapa yang mengirim pesan untuknya.

From: Shani Indilove

Aku tahu, senyuman kamu manis banget. Nanti sepulang sekolah kerumah aku, ya? Aku mau lihat senyuman kamu lagi <3

Pagi-pagi dibuat mleyot oleh pesan yang ternyata dari Shani. Wajah dinginnya yang saat ini terpampang olehnya, justru diam-diam selalu memperhatikan Gracia. Gracia yang membaca isi pesan tersebut, lantas semakin merasa kalau Shani benar-benar mencintainya. Ada pula yang ia rasakan, bahwa sandiwara yang Shani perbuat terhadapnya, justru adalah dirinya yang tengah dilindungi olehnya.

Meskipun, dalam benaknya cara melindungi Shani yang sangat salah.

BRAAKK!!

Ya Tuhan, lagi lagi kemunculan dua gadis rempong yang sangat menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Anin dan Sisca. Kemunculannya dengan tidak sopan kedalam kelas yang bukan kelas mereka dengan seenak jidat. Tapi, mereka masa bodoh sih, secara mereka berlindung dibalik nama Shani yang sebagai sahabatnya.

Kedua gadis itu seperti biasa, menghampiri Gracia dengan perasaan ingin menindasnya. Menindas gadis malang seperti Gracia setiap hari bagaikan rutinitas tambahan mereka disekolah yang harus dilakukan. Sehari saja tidak menindas Gracia, rasanya awan kelabu akan menyelimuti mereka. Karena, penindasan terhadap Gracia menjadikan kesenangan tersendiri untuk mereka.

Tertawa diatas penderitaan orang lain--jahat.

Helaan nafas yang Gracia hembuskan begitu mendapati dua gadis itu kini berada didekatnya. Males banget lagi lagi harus berurusan dengan mereka ini yang unfaedah sama sekali, begitulah kesan Gracia.

KromulenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang