Cuaca panas di jam istirahat ini menggambarkan seperti amarah Dheo yang memanas. Dalam pandangannya, orang yang ia sukai benar-benar diperlakukan layaknya seperti pembantu ketiga gadis yang ia benci saat ini. Kala, Gracia disuruh untuk ini-itu demi kepuasan mereka.
Dheo yang sudah naik pitam itu lantas sesegera mungkin menghampiri ketiga gadis itu. Lebih tepatnya, ke Shani yang sedari awal sudah sangat ia benci.
Begitu Dheo kini berada didekat meja ketiga gadis itu. Kedua tangan Dheo menggebrak meja yang ditempati oleh gadis-gadis itu dengan sangat kencang.
BRAAAKKK!!!
Anin, Sisca dan Shani terkejut mendapati Dheo yang sudah berada didekatnya. Terlebih, tatapan Dheo benar-benar dipenuhi amarah yang memuncak. Menatapi satu per satu gadis dihadapannya itu dengan penuh kebencian.
Shani yang mendapati tatapan Dheo hanya menoleh sekilas. Masih dengan raut wajah dingin nan acuhnya. Namun, berbanding terbalik dengan Sisca yang langsung tersulut emosinya.
"HEEHH!!! MAKSUD LO APA HAAHH??!! GEBRAK-GEBRAK MEJA ORANG GAK ADA UJAN GAK ADA ANGIN!!" Mendapat respon dari Sisca dengan berdiri sejajar dengan Dheo, Dheo semakin menjadi untuk meladeni gadis dihadapannya ini.
"HEHH!! KALIAN BERTIGA TUH UDAH KETERLALUAN BANGET YAA??!! NGEJADIIN KAK GRACIA SEBAGAI PEMBANTU KALIAN YANG DISURUH INI-ITU. KALAU KALIAN MASIH PUNYA TANGAN SAMA KAKI, JANGAN SEENAK JIDAT LO PADA DEH!! TERUTAMA LO!! HEEEIII... GADIS ANGKUH!!" Tangan Dheo menunjuk-nunjuk ke arah Shani. Shani sih masih bodo amat dengan Dheo yang benar-benar ingin sekali untuk memukulnya, sekaliber Shani adalah seorang perempuan.
Sisca tidak mau kalah. Ia sama halnya dengan Dheo dari awal. Menggebrak meja sebagai awal genderang perang adu jotos keduanya.
BRAAKKK!!!
"OOHHH!! LO MAU JADI SOK PAHLAWAN KESIANGAN SI GRACIA??!! KENAPAA??!! LO GAK SUKA HAAHHH... DIA DIPERLAKUIN KAYAK GINI SAMA KITA-KITA??!"
Semakin dilawan maka semakin menjadi emosi keduanya. Sontak, pertengkaran dengan nada semakin meninggi itu membuat jadi bahan tontonan anak-anak sekolah yang tengah berada dikantin.
"LOO YAAA??!!" Tangan Dheo yang terayunkan kemudian untuk menampar Sisca, seketika ditahan dengan cepat oleh Shani yang berdiri sejajar dengannya.
Shani menahan tangan Dheo yang ingin menampar Sisca dengan cengkraman kuatnya. Dheo yang mendapati cengkraman itu cukup terkejut. Untuk seorang gadis seperti Shani, bisa memiliki tenaga sebesar ini.
Shit!! Ini cewek kuat juga!!
Tatapan dingin Shani nan menyeramkan mulai terpancarkan dihadapan Dheo. Shani yang dalam mode menyeramkan itu seolah ingin menghabisi Dheo seketika itu juga. Dheo yang mendapati tatapan Shani itu kembali terkejut olehnya.
Bukan itu saja. Shani semula melepaskan cengkraman ditangan Dheo, lalu berbalik menarik cepat kerah seragam Dheo. Dheo lagi lagi dibuat terkejut dengan perlakuan Shani, karena ternyata ia memiliki jiwa layaknya seorang laki-laki untuk menghajar Dheo.
BUGH!!
AAKKHH!!
BRUK!
Sebuah pukulan dari Shani tepat mengenai hidung Dheo. Pukulan keras Shani sukses membuat Dheo terjungkal ke lantai kantin. Orang-orang yang melihatnya lantas bergidik ngeri. Tidak menyangka, seorang Shani Indira Natio yang memiliki wajah dingin dan kalem itu, bakal melakukan hal seperti itu.
Pukulan keras yang mengenai Dheo pun juga membuat Dheo meringis kesakitan, serta hidungnya yang berdarah.
Dheo yang menerima pukulan itu tersenyum sinis. Shani sungguh ingin mengajaknya untuk berkelahi dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kromulen
Fanfiction"Gre, aku suka sama kamu. Aku mau kita jadian, dan kamu harus terima aku mau gak mau. Kalau gak, aku bakalan bunuh kamu!" "HAAHHH!!!" Well, Gracia sangat terkejut karena Shani menginginkan dirinya untuk menjadi pacarnya. Terlebih, cara Shani menyat...
