BUGH!!!
BUGH!!!
BUGH!!!
AKHHH!!!
BRAAAKKK!!!
Hantaman beberapa pukulan keras Shani tepat dibagian wajah Dheo sukses membuat seorang Dheo terjungkal seketika. Tubuhnya terjungkal begitu kerasnya hingga mengenai benda-benda disekitar apartemennya.
"Pliissss! Shan hentikaann?!" Ucap Anin setengah berteriak yang bermaksud menghentikan Shani agar jangan kelewat batas untuk menghajar Dheo. Namun, Shani tidak mempedulikannya.
Lain halnya dengan Anin, Gracia yang semula menangis tersedu-sedu, hanya terduduk lemas dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Tubuhnya masih terasa lemas, menerima perlakuan keji adik kelasnya itu. Namun, tentu juga ia tidak ingin melihat Shani yang menghajar Dheo itu sampai kelewat batas.
"Gre, kamu gak apa-apa kan?" Kedua tangan Anin merangkul bahu Gracia untuk menenangkannya. Gracia masih dalam ketakutannya mengangguk pelan, "A-aku gak apa-apa."
Tentu, Anin melihat keadaan Gracia saat ini yang sangat menyedihkan. Dengan cekatan, Anin memunguti pakaian Gracia yang tercecer disekitaran lantai. Lalu setelahnya, Anin membantu memakaikan pakaian tersebut ke tubuh Gracia.
"Ma-makasih?" Ucap Gracia pelan. Anin mengangguk, " Gak apa-apa. Yang penting sekarang kamu udah selamat."
Sementara itu, Dheo yang sudah terlihat lumayan babak belur dengan sedikit tertatih untuk berdiri. Tangannya mengusap kucuran darah yang keluar dari hidung serta bibirnya.
Dheo gak ada takutnya sama sekali. Mendapat pukulan demi pukulan yang diberikan oleh Shani, ia malah tersenyum sinis ke hadapan Shani yang menatapnya dengan sangat tajam.
"Boleh juga lo! Tapi, lo gak tahu siapa gue." Dheo berjalan perlahan mendekati Shani. Tangan kanannya mengepal untuk membalas pukulan Shani.
"SIALAAANNN LOOOOO!!!!" Tangan kanan Dheo terayun untuk memukul Shani. Namun, dengan cepat Shani menahan pukulan yang diayunkan oleh Dheo.
Tentu, Dheo sangat terkejut karena Shani menahan pukulan yang ia lancarkan dengan cepat dan penuh tenaga itu dengan mudahnya. Karena saking terkejutnya, kedua bola mata Dheo bahkan sampai terbelalak.
Gila ini cewek?! Kok dia kuat banget.
Mendapati ekspresi terkejut Dheo, membuat Shani yang berbalik tersenyum sinis menatapnya.
"Kenapa? Kaget pukulan lo bisa gue tahan. Lo gak tahu berurusan sama siapa boy?" Begitu kepalan tangan Dheo yang kini berada ditangan Shani, tangan Shani reflek mencengkeram tangan Dheo dengan sangat keras. Sontak, Dheo meringis kesakitan.
"Aaaaaakkhhhh!!! Ku-kurang ajar lo!!!"
"Ini belum seberapa. Masih ada banyak lagi yang bakal gue kasih ke lo karena udah berani macem-macem. Apalagi, lo udah nyakitin Gracia!!!" Nada ucapan Shani yang terdengar dingin nan menyeramkan. Dheo yang mendengarnya masih meringis kesakitan.
"A-apa yang bakal lo lakuin ke gue? HAAAHHH!!! GAK USAH SOK NGANCAM GUE LO, CEWEK KURANG AJAR!!! GUE GAK TAKUT!!!" Sekuat mungkin Dheo berusaha melepas cengkraman keras tangan Shani. Namun, she is Shani Indira Natio, si cewek yang kuat nan kejam itu benar-benar memiliki tenaga layaknya laki-laki yang sepadan dengan Dheo.
"Oh, gitu ya?" Hingga akhirnya, cengkraman tangan Shani semakin dibuat lebih keras lagi olehnya yang membuat Dheo semakin meringis kesakitan.
"AAAAKKKHHHH!!!! LE-LEPASIIINNN?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kromulen
Fiksi Penggemar"Gre, aku suka sama kamu. Aku mau kita jadian, dan kamu harus terima aku mau gak mau. Kalau gak, aku bakalan bunuh kamu!" "HAAHHH!!!" Well, Gracia sangat terkejut karena Shani menginginkan dirinya untuk menjadi pacarnya. Terlebih, cara Shani menyat...
