Sejatinya, Tuan, aku telah lama mati
Kalau saja Tuan jeli menangkap isyarat ini
Aku dibunuh waktu dan jasadku ditunggangi
Di kuburanku, orang-orang berziarah tanpa doa
Sulam kata pingkal tawa
Terpigura aku kian berjelaga
Sejatinya, Tuan, aku telah tiada
Meski Tuan lihat jasadku bernyawa
Dan senyumku yang katanya kian menawan saja
"Bunga Raya, Bunga Raya." Bisik-bisik tertangkap
Saban hari kurayakan kematianku dengan ratap
Selepas itu kubaluri doa di sekujur jasadku nan senyap
"Tak pantas, tak layak, tak akan sampai."
Bahkan diriku sendiri sangsi pantaskah kata-kata baik teruntai
Layakkah air mata berderai
Doa-doa ini, bolehkah ku yakin akan sampai?
Melibur, 04 Oktober 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam-Malam Tanggal
PoesíaSeketika aku semacam gigil dedaunan yang bergeletuk direngkuh embun, dan kau tangkai-tangkai waktu kering; terpanggang musim-musim hilang yang panjang.
