usiaku dua-dua saat tetes pertama menyapa kota kelahiran ini
senja dan rintik bercengkerama dengan bentala kerontang
udara kering kota mendekap para tetes yang telah lama tak bisa ditegur sapa
dua-dua ialah janji menghela jumpa pada bentangan jarak
memimpin pulang rindu yang terisak-isak mendamba temu
puisi membiru di bentangan langit kota dan memesona dalam selimut temaram senja
kisah lalu menghujan di sudut ingatan membuatku menapak kembali genangan kenangan
hari itu para bata mentah dibakar
lelaki biru bergurau dengan potongan kayu sebesar pohon kelapa
tubuh ringkihnya membujuk si potongan kayu agar sudi bertengger manis di punggung hitam terpanggang matahari supaya dipertemukan dengan lio yang masih terlelap
ia undang sepercik api di tumpukan kayu yang menyesak liang-liang pembakaran
berharap si api memeluk para bata yang masih saja tak terbiasa dengan kehadirannya
ia melangit harap pada jilatan api yang menyelimuti bata kelabu
meminta para bata tampil menawan supaya sang tuan tersungging saat memberikan sedikit keping
ia lantunkan terima kasih tak berujung pada kayu-kayu cokelat yang ikhlas terbakar
mengeloni senyum lemah si abu sebelum terlelap dalam istirahat panjang
mimpi-mimpi memeluk lutut dalam tatapan penat lelaki biru
semoga hari esok dapat ia retas segala kemustahilan, segala ketidakmungkinan
kutaruh segala angan dalam genggaman kasar sang lelaki dan ia menaungi asa dengan simbahan peluh dan darah supaya sudi merangkulku dalam perjalanan
senja merangkak pulang sambil mengelus wajah kota kelahiran
merajut janji bahwa esok ia akan kembali dengan kisah-kisah baru
sang bentala melepas rindu dengan para rintik membiarkan diri larut dalam dekapan malam
puisi-puisi sang pelindung mimpi membait biru dengan menawan di bentangan langit kelam
memayungi kota kelahiran yang menggugu pilu
lelaki biru tersenyum sendu di selembar potret dalam kenang
menenangkan aku dan mimpi-mimpi meskipun ia telah lama beranjak pergi
tetaplah hidup meskipun hanya dalam bait-bait puisi
supaya perjalanan panjang ini tak terlalu terasa membebani
Di Kota Pelajar
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam-Malam Tanggal
PoetrySeketika aku semacam gigil dedaunan yang bergeletuk direngkuh embun, dan kau tangkai-tangkai waktu kering; terpanggang musim-musim hilang yang panjang.
