Sebelum suara-suara di lorong
kerinduan itu kehilangan gema,
kita pernah menjelma cinta yang bergelayut di dahan-dahan dan
dedaunan: menyesap sinar mentari
tumpah di kepala
setelah puas merenda hujan
perlahan menimpa.
Sebelum ingar-bingar menyusun
sebuah kesunyian,
kita pernah saling bertukar warna;
katamu bisa kau terima aku tanpa karena
dan kataku dapat kupeluk engkau tanpa menyuguh risau.
Sehimpun tanya meracunimu,
aku dibakar nyala dari dalam dada
“Seandainya tak pernah ada ‘kita’,
mungkin kau akan berbahagia
sepanjang masa.”
“Semisal aku batu, rumput atau
bahkan debu, mungkin kau bisa berlalu tanpa sedu.”
Lubuk Garam, 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam-Malam Tanggal
PoesíaSeketika aku semacam gigil dedaunan yang bergeletuk direngkuh embun, dan kau tangkai-tangkai waktu kering; terpanggang musim-musim hilang yang panjang.
