Tuan kita sedang murka
Terkandung serapah di dada lalu dilahir bicara
Melekap di dinding-dinding istana
Hati yang bodoh diberi percaya mengikat simpul kemana-mana
Tapi bukan urusan kita
Bernyanyi sajalah sampai marah sendiri terlupaKalau nanti tuan kita bermuram durja
Sembari menjahit muka dan menata kata-kata
Tak cukup kita bernyanyi saja
Kita perlu menari seriang mungkin sembari sesekali bersiul
Sampai lupa diri sendiri terlilit masygulKata orang tuan kita maha mengerti
Ia tahu seluk beluk isi hati daripada kita sendiri
Apalagi perihal kita di balik jeruji
Aih, sudahlah, terlihat gembira sajalah sampai kita matiMelibur, 28 September 2021

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam-Malam Tanggal
PoesíaSeketika aku semacam gigil dedaunan yang bergeletuk direngkuh embun, dan kau tangkai-tangkai waktu kering; terpanggang musim-musim hilang yang panjang.