/1/
Di pelataran rumah
Ibu menenggala tanah sanubari
Dengan doa-doa, ia titipkan benih sebuah nama di pangkuan resah dan naungan air mata
Tanpa henti dipupuk semoga nan maha luas mengalir dari segara dalam tubuhnya
Ia berharap benih nama itu terus meninggi hingga menjawat ia yang sering dicari
Dalam doa-doa panjang sebelum subuh berkumandang.
/2/
Di matanya
Sering terjamu sepinggan rindu saban hari
Yang meletup-letup sendirian
Dan tiada pernah dicecap oleh seorang tamu yang tak kunjung datang
Yang hanya bisa mengutus doa-doa untuk menjaga yang teramat jauh dari bingkai mata.
Bencah Umbai, 4 Juni 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam-Malam Tanggal
PoetrySeketika aku semacam gigil dedaunan yang bergeletuk direngkuh embun, dan kau tangkai-tangkai waktu kering; terpanggang musim-musim hilang yang panjang.
