maaf tulus?

42.9K 2.5K 133
                                        

🐻 s e l a m a t - m e m b a c a 🐻

19. Maaf tulus?

.
.
.

Hari ini Alva kembali datang ke markas Draco, takut sebenarnya tapi atas bujukan Darren Alva mau ikut.

"Leher lo kenapa?"  Alva memegangi leher, menelan ludah, lalu tersenyum manis pada Darren sambil menggelengkan kepala.

"Ini gak pa-pa kok"

"Hm, duduk dulu. Gue ambilin minum"  balas Darren tanpa menaruh curiga apapun.

"Gak mau!!!" Alva menarik seragam Darren, menggelengkan kepala beberapa kali "jangan di tinggal, takut ada Feby" cicitnya takut.

Tertawa, Darren mendudukkan Alva di sofa "dia gak bakalan ganggu lo lagi, tenang aja. Gue ada di sini sama lo" tangan Darren mendarat di puncak kepala Alva, mengelusnya pelan sebelum beranjak pergi ke dapur.

Beberapa lama kemudian Darren menyerahkan minum pada Alva "nih minum dulu" Alva mengangguk, mengambil gelas dari tangan Darren.

Duduk di sisi Alva, Darren memperhatikan cewek itu dengan tatapan teduh. Bulu mata lentik dengan bola mata cokelat terang itu membuat Darren selalu merasa tenang berada di samping Alva "Alva lo cantik banget, mau jadi istri gue gak?" Alva berhenti meneguk air, menatap Darren singkat kemudian menggeleng beberapa kali.

"Gak mau, aku sukanya Afka doang!" Tekan Alva pasti. Melupakan fakta kalau orang yang sangat dia sukai dan cintai tidak membalas perasaannya.

"Hi Alva!" Suara dengan nada bas itu membuat Alva terdiam, jantungnya berdetak abnormal karena Feby menyapa dengan senyum datar yang bagi Alva lebih menakutkan dari apapun, tidak termasuk kehilangan Rafka.

"Udah gak pa-pa, gue ada di sini" Darren menggenggam tangan Alva, setengah kaget karena tangan cewek itu benar-benar bergetar dan mengeluarkan keringat, ternyata pengaruh Feby sebesar itu pada Alva. Beralih pada sang sepupu, Darren menenangkan Alva dengan mengusap punggung tangan cewek itu "udah jangan lama-lama kasian Alva, lo mau ngomong kan? Cepetan!" Tagihnya.

"Aelah, gitu doang. Bilang aja lo gak mau di ganggu pdkt sama Alva kan?" Goda Feby dengan tawa ringan, Alva bergidik. Feby benar-benar mengerikan. Mendengar tawa cewek tersebut rasanya seperti mendengar petir saat malam hari.

"Apaan sih! Gak jelas lo!" Darren memalingkan muka, Feby balas dengan tawa renyah.

Mendekat, Feby duduk di dekat Alva membuat cewek itu mematung. Feby tersenyum, masih sama, cewek ini masih saja menjadi cewek polos dan lugu, sangat mudah untuk ditindas "sini" Feby membawa tangan Alva agar menyentuh perutnya.

"Pe-pe-perut ka-kamu kenapa?" Tanya Alva kikuk.

"Ini karena gue jahatin lo. Disini ada darah daging gue sama cowok yang bahkan gue gatau namanya" Feby menghapus air mata yang menetes "lo belum paham ya Al? Gue hamil" Alva menjauhkan tangan, menatap Darren meminta penjelasan.

"Iya Feby hamil, lo maafin semua kesalahan dia. Kasian anaknya kalau kenapa-kenapa gara-gara gak dimaafin tante secantik dan semanis lo" kekeh Darren melihat pipi Alva yang menggembung.

"Pasti lucu banget nanti anak kamu Feb, kamu kan cantik. Aku kapan ya punya anak sama Afka?" Feby yang tadinya tersenyum tipis merubah air muka. Pernikahan? Dengan Rafka? Kapan? Kenapa dia tidak tahu?

"Maksud lo? Jangan bilang Afka itu Rafka Algibran Putrajaya?" Tangan Feby terkepal karena respon Alva yang mengangguk. Jika tidak ada Darren disini Feby pasti kalap. Cewek itu menghirup udara lalu menghembuskannya sebentar.

"Udah ya? Makasih Al gue balik" Feby meninggalkan tempat duduk tanpa menoleh.

"Feb, mau gue anterin?"

"Gak usah, gue udah pesen taksi"

"Oke, hati-hati"  Feby menunjukkan jari jempol di udara pada Darren sebagai respon.

🐻🐻

Sekarang Alva pulang ke rumah, hal pertama yang dia lihat adalah sneakers Rea yang ada di rak sepatu, pemandangan kedua tas Rea yang tergeletak sembarangan di sofa dan yang ketiga adalah pemandangan yang membuat hati Alva seperti di tusuk-tusuk dengan jarum karena Rafka dan Rea yang menggunakan dapur untuk memasak. Masing-masing dari mereka kotor karena membuat makanan entah itu apa, yang jelas adegan romantis seperti colek-colekan atau sejenisnya pasti sudah terjadi di sana.

"Alva udah balik? Kita bikin kue buat lo"  sapa Rea riang dibalas senyum tipis dari Alva.

"Aku gak laper Re, kamu ngapain ke sini?" Respon Alva berbanding terbalik dengan hatinya yang sakit. Cewek itu tetap bersikap lembut dan tidak meninggikan suara pada Rea. Tahu betul sebabnya jika Alva berbuat demikian, Rafka akan menghukumnya nanti.

"Eh itu.." Rea menggaruk tengkuknya "gue kesini mau--"

"Ya udah lanjutin aja. Aku mau ganti baju, Afka laper? Mau makan apa?" Potong Alva cepat.

"Gak" tolak Rafka dibalas Alva dengan senyum. Cewek itu mengabaikan jawaban dari Rea. Terlalu malas untuk meladeni orang yang sudah dia anggap sebagai sahabat baik ternyata aslinya seperti itu. Baru beberapa hari yang lalu bilang tidak akan mengganggu malah datang kesini terus.

"Al lo jahat banget sama istri sendiri" ujar Rea melihat respon Rafka yang terlalu dingin pada istrinya sendiri. Tapi Rea tidak munafik, walaupun melarang ataupun terlihat tidak suka dengan cara Rafka memperlakukan Alva dia menyukainya, Rea masih ingin Rafka kembali padanya. Brengsek memang haha.

"Gak peduli, main PS yuk!" Ajak Rafka.

"Dimana?"

"Di kamar gue"

"Disana ada Alva?"

"Iya ada"

"Gue takut jadi pengganggu di hubungan kalian. Gak usah deh, kalau kue yang kita bikin tadi selesai gue bakalan balik, eh--" Rea terpaksa mengikuti langkah Rafka menuju lantai atas yaitu letak kamarnya.

Didalam sana ada Alva yang sedang menulis sesuatu, seperti mengerjakan soal "kamu butuh apa?" Tanya Alva pada Rafka.

"Gak, lo keluar gue mau main game sama Ca-Rea" ralat Rafka langsung di angguki Alva. Dia melengos melewati mereka berdua tanpa berbicara apapun.

Sepeninggal Alva yang menjauh, Rea mengucapkan maaf berkali-kali.

Maaf Al, gue gak bisa bohongin hati gue, masih ada Al disana, gak bakalan berubah, gue gak bisa nepatin janji gue buat gak ganggu hubungan kalian, maaf. Batin Rea duduk lesehan di karpet sambil menunggu Rafka menyalakan PS.

Sementara itu di sini Alva sekarang, duduk di ayunan yang ada di halaman belakang, cewek itu mengeluarkan spidol dan cutter dari balik saku.

"Kupu-kupu jangan rusak ya, nanti kamu gak cantik lagi" Alva mempertebal pola kupu-kupu yang ada di lengannya dengan spidol. Sementara tangannya yang menjadi alas tidak lagi polos melainkan sudah terisi dengan garis dan guratan-guratan berwarna kemerahan akibat cutter kemarin.

"Gak bisa, ini beneran sakit. Maaf ya kupu-kupu, kamu aku rusak" Alva mengambil cutter, mulia membuat pola-pola abstrak di tangannya. Mengabaikan darah yang terus mengalir. Alva tidak peduli, yang terpenting dia bisa melepaskan emosinya, walaupun mungkin cara ini bagi sebagian orang bisa dibilang cara orang bodoh bersenang-senang untuk mengelabui kesedihan.










Follow
Ig : @wnsft_

Jangan lupa share Ataxaria ke temen-temen kalian siapa tau nyaman🐻

Ataxaria [ completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang