O25 : Nana

10K 1.4K 258
                                        

"Kak Renjun terimakasih!" Kata seorang anak perempuan yang memeluk Renjun.

"Sama - sama... Belajar yang rajin yaa!" Renjun mengusap lembut rambut anak perempuan itu.

Renjun sedang berada di panti asuhan di mana Guanlin tinggal. Karena Guanlin sudah beranjak dewasa, Ia sukarelawan menjadi pengajar untuk adik - adiknya di panti. Mereka semua adalah anak pintar, namun karena keterbatasan dana mereka hanya bisa sekolah seperti biasa tidak untuk tambahan pelajaran seperti les, baik akademik maupun non akademik. Guanlin lebih sering mengajari mereka bermain alat musik.

"Kak Renjun, aku udah bisa basicnya!"

Anak perempuan berambut ikal memainkan piano dengan basic note yang diajarkan Renjun tadi.

"Good job!" Renjun tersenyum lebar.

"Kak, ini gimana ya?" Seorang anak laki - laki menarik kaos Renjun.

Renjun menatap layar komputer yang berada di depan anak tersebut.

"Oh ini kamu tinggal klik itu aja, nanti kamu pelebar pake mouse!"

"Yash! Makasih kak!" Anak laki - laki tersebut kembali fokus pada layar komputer. Ia sedang belajar membuat design.

"Yang? eh Njun... err... udah jam segini gimana?" Guanlin menepuk bahu Renjun.

"Ya terserah lo lah, biasanya selesai jam berapa?" Renjun menatap Guanlin.

"Jam 5..." Jawab Guanlin.

"Ini udah jam setengah 6, udah lama banget..." Renjun mengulum bibirnya.

"Oke adik - adik! Belajar bareng hari ini kita sudahi ya?" Guanlin berteriak di tengah aula.

Hampir semua anak mendesah kesal. Mereka masih ingin belajar!

"Kok sedih gitu sih?" Renjun menambahi, "Tenang aja, besok sore Kakak ke sini lagi kok. Bawa makanan yang banyak! Kalian mau kan?"

Semua anak mengangguk semangat. Mata mereka berbinar.

"Yaudah sekarang kalian balik ke kamar masing - masing ya, setelah itu jangan lupa untuk makan malam!" Guanlin berkata tegas.

Lagi - lagi mereka mengangguk. Mereka memberesi barang - barang yang berantakan lalu pamit dan mengucapkan terimakasih kepada Guanlin dan Renjun. Setelah itu mereka berjalan rapi, keluar dari aula.

"Huft..." Renjun duduk di salah satu bangku.

"Maaf ya ngerepotin," Guanlin duduk di sebelah Renjun.

"Eh ga, gue malah suka sama kegiatan kaya gini. Makasih ya udah ngajakin!" Renjun menepuk - nepuk lengan Guanlin.

Guanlin hanya tersenyum tanpa berkata apapun.

"Gue ga nyangka, lo ternyata sekeren ini," Renjun menatap lekat Guanlin.

"Lo juga keren," Guanlin membalas tatapan Renjun, tak lupa menunjukan senyumnya.

Mata mereka saling bertemu, memandangi satu sama lain. Dan.. jantung mereka yang berdebar senada. Bukan hanya Guanlin, namun Renjun juga.

Renjun menelan ludahnya, Ia memegang dadanya. Shit, ini terjadi lagi.

"Kenapa? Asma?" Guanlin panik.

Renjun menggeleng. "Ga ga ga...."

"Lo kecapean, habis ini gue anterin pulang deh ya.. motor panti ga kepake.." Guanlin memegangi dahi Renjun, mengecek suhu badannya.

"Ga usah, gue dijemput sama Ayah. Dia pengen mampir juga ke sini.." Renjun menatap lucu Guanlin.

"O-oke.." Guanlin ingin sekali mencubit pipi Renjun namun Ia tahu pasti akan mengundang masalah.

Pacar Lima Restu 🌷 Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang