Guanlin menggendong Renjun untuk mendaki sebuah gunung. Ini ide Guanlin, Ia mengajak Renjun untuk berpetualamg. Seminggu setelah pernikahan Haechan. Guanlin ingin mengutarakan sesuatu.
Sebenarnya Yuta melarang hal itu, mengingat kondisi Renjun yang belum sepenuhnya pulih. Namun, namanya saja Guanlin, dia itu Yuta versi lebih begundal. Ia bahkan berani beradu argumen dengan Yuta dan akhirnya Yuta mengizinkan.
"Lo ga capek?" Renjun berbisik.
"Ga," Singkat Guanlin. Padahal, demi Tuhan, Ia ingin menyerah. Ternyata jalur yang Ia tempuh tidak semudah yang Ia bayangkan.
Guanlin berusaha sebisa mungkin untuk mencapai puncak. Tidak ingin melewatkan Sunrise. Iya, mereka mendaki pada dini hari. Renjun hanya mampu mendaki sampai setengah jalan, Guanlin pun harus menggendong Renjun.
Di belakang Guanlin juga ada rombongan lain yang sedang mendaki. Sedikit lega bagi Guanlin, karena nanti jika terjadi sesuatu, setidaknya ada yang menolong.
"Semangat!" Renjun mengecup pipi Guanlin dari belakang.
Guanlin tersenyum lebar. Ia melangkah lebih cepat. Mengeratkan gendongannya.
"Semangat Mas!" Teriak salah satu orang dari rombongan di belakang.
"Yuhu Semangat!!"
Renjun terkekeh, "Tuh disemangatin banyak orang!"
"Demi lihat Sunrise sama Renjun!" Guanlin berteriak.
Sekitar 20 menit Guanlin berjuang. Akhirnya Ia sampai pada puncak gunung itu. Perlahan Renjun turun dari gendongan Guanlin.
"Finally," Guanlin menghela nafas lega dan langsung menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Belum telat," Renjun memandang ke arah matahari, "Mataharinya belum terbit!"
"Yass!" Guanlin terkekeh lalu meninju - ninju angin.
Renjun duduk di sebelah Guanlin, lalu Ia mengambil kamera yang Ia bawa di dalam tasnya.
"Sayang.. hadap sini!" Renjun mengarahkan kameranya ke wajah Guanlin.
Guanlin tersenyum.
Cekrek!
"Bergaya lagi!" Renjun masih mengarahkan kamera.
Guanlin tidak bergaya, Ia pura - pura tertidur.
Cekrek!
"Good, lo kaya gembel!" Renjun terkekeh.
Guanlin bangkit lalu duduk di sebelah Renjun. Lalu memandangi kekasihnya itu.
Renjun membalas tatapan itu, Ia pandangi lekat mata Guanlin.
Deg!
Ada sesuatu yang aneh yang dirasakan Renjun. Seharusnya Guanlin terlihat bahagia, namun mata Guanlin tidak. Terlihat sendu.
"Lo ga sakit kan lin?" Renjun mengusap pipi Guanlin.
"Hah? Ga. Kenapa emang?" Guanlin terlihat kebingungan.
"Lo kaya lagi ga fit.." Renjun terus memandangi mata Guanlin.
"Gue emang capek sayang, jadi ya.. mohon maaf kalau keliatan lemes," Guanlin terkekeh.
Renjun menelan ludahnya. Bukan itu yang dimaksud Renjun sebenarnya.
"Eh.. eh... udah naik Sunrisenya!" Guanlin menunjuk Matahari yang mulai terbit dari ufuk Timur.
Guanlin merangkul Renjun. Sedangkan Renjun menyenderkan kepalanya ke bahu Guanlin. Mata mereka sama - sama tertuju pada indahnya Matahari yang sedang terbit. Perlahan langit berubah menjadi warna jingga. Sungguh sangat sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pacar Lima Restu 🌷
Teen Fiction♡ Kerandoman para bujang Neo Residence untuk mendapatkan restu Ayah Yuta. ------------------------------------------------ Sequels : 1. Pacar Lima Restu 2. Teman Lima Musuh 3. Kisah Lima Bujang (Prequel) .・゜゜・bxb story with adult content
