Hallo, jangan lupa vote!
Follow dan komen juga!
Kalau ada typo komen. Okee
'Castigo2=Hukuman2"
***
"Gara-gara lo nih," tuduh Ansel kepada Firsan
"Kok gue?" Tanyanya tak terima
"Elo kan yang ngajak kita main basket."
"Elo juga salah sendiri kenapa setuju-setuju aja!" Jawab Firsan sinis.
"Kalian kenapa jadi berantem gini si--" ucap Epul terpotong oleh teriakan Ansel dan Firsan
"DIEM LO!"
Di sinilah mereka, di tengah lapangan, di bawah teriknya matahari dan mereka sedang berdiri menghadap bendera yang mereka hormati. Keringat begitu bercucuran di tubuh mereka masing-masing terlebih hawa panas menjelang siang hari.
"Gila tiga jam kita harus diem di sini?" Ucap Ansel mengeluh lalu ia mengumpulkan beberapa dedaunan di dekat kakinya ia menyatukan daun itu dan mengibas-ngibas ke arah wajahnya.
"Tambah gosong badan gue kalau gini caranya," lanjutnya.
Epul memperhatikan gerak-gerik Ansel. "Emang ada anginnya?"
Ansel mengangguk mantap. Memang dedaunan yang ia kumpulkan jika di satukan akan menghasilkan angin walau tak seberapa. Tetapi bisa membuat gerahnya mereda. "Gue juga tau dari anak SD."
Firsan berjongkok seraya mendengus. "Sumpah, Oma lo kenapa jadi guru BK sih Al?" Timpa Firsan sedikit kesal
Al mengedikan bahunya. "Mana tau, seharusnya dia diem di rumah meratapi nasibnya yang bentar lagi pindah ke bawah tanah."
Ansel, Epul, Firlan dan Firsan tertawa terlebih Ansel dan Firsan yang sudah tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air matanya. Sedangkan Al hanya acuh apa lagi moodnya sedang tidak baik-baik saja. Ia juga tak mengerti mengapa Oma-nya yang menjadi guru BK entah apa yang membuat Oma-nya kembali ke indonesia apa lagi dia sudah lama tinggal di Amsterdam.
Al mengkerutkan meningnya seraya merenung, apakah kembalinya wanita tua itu hanya untuk menjaga dirinya atau ada sesuatu yang Al tak tahu. Apa lagi Oma-nya tak akan kembali ke indonesia jika tak ada masalah dan Papanya tak akan mengemis untuk meminta Oma-nya kembali ke sini terlebih Oma-nya sudah tua.
"Durhaka lo!" Ujar Epul memukul bahu Al.
"Dia bukan nyokap gue berarti ga durhaka dong," jawabnya cuek
"Tapi dia nyokapnya nyokap lo," ucap Epul memberikan pengertian
"Buset, Itu ngomong atau kumur-kumur. belibet banget," timpa Ansel terkejut
Epul berdecak. "Maksud gu--"
"Gue ngerti. Ga usah banyak bacot kalian," potong Al menaikan nada bicaranya
"Masih PMS dia," bisik Ansel kepada Epul dan hanya di angguki oleh Epul.
"Gue cowok!" Tegas Al yang mendengar bisikan Ansel.
"Marah-marah mulu lo!" Ujar Firlan yang sedari tadi memperhatikan Al selalu berkata ketus kepada lawan bicara.
Al mendelik ia tak menjawab perkataan Firlan dirinya masih panas saat matanya melihat Diva dan Agam tengah berbicara di lantai dua. Bayangan Diva tertawa lepas membuat otaknya mendidih seketika di tambah ia melihat Agam sangat akrab dengan diva. Sadar tak sadar tangannya kini sudah mengepal kuat hingga urat-urannya terlihat di tambah dengan giginya yang mengertak kuat dan pandangan sangat tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALDERALD (END)
RandomAlderald Putra Mahadewa adalah cowok sejuta dewa memiliki kekuasaan, kekayaan, ketampanan, kepopuleran bahkan kematian. Di era modern ini siapa yang tidak tahu nama Alderald ketua preman di sekolahannya bahkan namanya tidak asing di telinga sekolaha...
