04. El es Alderald

6.4K 294 26
                                        


Hallo jangan lupa vote ya!
Follow juga

Kalau ada typo komen. Okee


'El es Alderald=Dia Alderald'

***

Derap suara langkah menuruni tangga terdengar jelas di sebuah ruangan besar. Baju seragam yang sangat berantakan dengan tiga kancing ia biarkan terbuka begitu saja menampakan kalung serta dada bidang miliknya tak lupa dengan antingnya yang mencolok. Tangan kanannya memegang ponsel dengan mata yang fokus dengan benda cangih itu.

Alderald, cowok itu menarik kursi makannya lalu duduk dengan santai seraya memperhatikan pria yang ber setelan kemeja serta jas itu dengan fokus pada laptop serta secangkir teh di samping lengannya.

Al celingak-celinguk mencari seorang wanita yang sangat ia sayangi, biasanya seseorang itu akan menyambutnya di kala ia menuruni tangga hingga berpamitan bersekolah, tetapi sedari tadi ia tak mendengar suara wanita tersebut membuat pertanyaan di otaknya.

"Buna mana?" Tanyanya menatap Papanya.

"Buna ke rumah Tantemu," Jawab pria yang sering di sebut dengan Papa Irysad.

Al hanya mendengus lalu menatap jam di pergelangan tangannya tepat menunjukan angka setengah depalan, tangannya menarik segelas susu untuk ia minum tetapi sebelum itu ia berkata terlebih dahulu kepada pria yang sangat mirip dengannya. "Papa belum berangkat ke kantor? Ini udah hampir jam delapan loh."

Papa irsyad mendongkak lalu menatap anaknya dengan tajam. "Anak nakal, sekolah apaan jam segini hah?!"

Al yang sedang meminum susu akhirnya menatap sang Papa dengan cengegesan. Al tahu dirinya salah, bahkan hampir setiap hari dirinya selalu bangun jam setengah delapan. Jika Bunanya cukup terbiasa akan kebiasaannya, beda halnya dengan papanya. Papanya sama sekali tidak tahu bahwa anak semata wayangnya ini bandel tak tertolong. "lupa bangun tadi pa. Kirain Al tanggal merah."

Papa Irysad yang menyesap tehnya lmenoleh ke arah anaknya dengan malas. "Mau latihan mati kamu?Sampai bilang lupa bangun."

"Sinis banget sih pa, ga dapet jatah ya semalam?" Goda Al di iringi dengan tertawa pelan. Papa Irsyad yang mendengar anaknya itu langsung melotot.

"Kurang ajar! Papa kesel sama kamu dari tadi di tungguin. Kalau bukan Buna kamu yang nitip pesan sama Papa udah Papa tinggalin kamu," Omelnya dengan kesal.

"Papa mau meeting jadi di batalin untung Papa bosnya kalau bukan kamu mau jadi gelandangan? Lagian mana ada sekolahan yang muridnya datang jam segini. Ga waras kalau ada sekolahan yang kaya gitu, " Lanjut Papa Irsyad di akhiri sedikit memaki, tetapi tanpa ia sadari bahwa sekolahan anaknya itu miliknya sendiri.

Al menahan tawanya. "Secara ga langsung Papa ngomongin diri papa sendiri loh."

Papa Irsyad menatap Al dengan alis yang terangkat sebelah tak lupa dengan wajah yang galak. "Maksud kamu Papa ga waras?"

"Bukan aku yang bilang," Balas Al dengan menggeleng-geleng kan kepalanya sok polos.

Papa Irysad tak membalas ucapan Al. "Ayo sekolah, berangkat bareng Papa itu pesan Bunamu," Dengan tangan yang sibuk merapikan laptopnya serta membereskan meja makan.

"Naik mobil?" Tanya Al bingung.

"Naik unta!" kesal Papa Irsyad dengan asal lalu kakinya melangkah pergi ke luar lantaran ia sudah telat kekantor menunggu anaknya.

Al mengikuti sang Papa seraya merenung tiba-tiba saja ia memikirkan hewan Unta. Ia tidak pernah melihat hewan Unta secara nyata ia hanya melihat secara virtual.
Al menyengol bahu sangat Papa. "Pah?"

ALDERALD (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang