Malam ini seharusnya aku berpegang teguh pada pendirianku. Pendirian bahwa sebisa mungkin aku tidak memiliki hubungan spesial dengan siapapun di tahun ini. Pendirian yang harus diingat dan berjalan semulus mungkin.
Namun, kurasa malam ini aku menjadi penghianat bagi diriku sendiri. Malam ini seharusnya adalah malam yang biasa saja. Artinya aku tidak ter-distract oleh apapun. Namun, kenyataan tidak seperti yang seharusnya.
Aku mengaku bahwa aku tertarik dengannya. Aku tertarik dengan manusia yang berada pada story WhatsApp milik Kak Boni itu.
Foto pada story WhatsApp memperlihatkan Kak Boni yang berada di posisi kiri foto paling depan dengan memegang kamera smartphone-nya. Tiga teman Kak Boni, yang tidak ku ketahui namanya, duduk di sebelahnya. Satu temannya yang lain berada di sebelah kanan foto sembari setengah berdiri, satu lagi sembari duduk. Satu lagi adalah dirinya, yang paling belakang.
Sungguh sungguh sungguh. Aku tertarik dengan dirinya yang berada di paling belakang. Entahlah. Seharusnya aku tertarik dengan orang yang fotonya berada lebih dekat dengan kamera, bukan? Seharusnya aku tidak peduli dengan keberadaan dia yang posisinya berada paling belakang, bukan?
Udah deh, ngga usah dipikirin. Toh, aku juga ngga kenal dia siapa. Masa tiba-tiba suka sama dia, sih.
Berulang kali otakku berkata demikian. Kali pertama aku berhasil mengusir rasa penasaran itu. Bahkan kali kedua aku sudah mampu meletakkan smartphone-ku di atas karpet bulu ini.
Tapi kalo ngga nanya nama dia ke Kak Boni, nanti nyesel dong?
Pikiran itu kembali terbersit.
Eh, tapi ngga usah kepo deh. Kan aku juga lagi pengen sendirian.
Akhirnya, foto yang diunggah oleh Kak Boni itu aku screenshot. Kali aja aku akan membutuhkan foto ini beberapa hari ke depan. Ya walaupun aku benar-benar tertarik dengan dirinya, tapi tetap saja kali ini masih kalah dengan sifat gengsiku yang tidak ketulungan.
₰₰₰
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan menenteng tas sepatu futsal dan berbagai keperluan yang akan digunakan saat latihan perdana di sekolah nanti. Lumayan ribet.
Seperti biasa, sebelum berangkat ke sekolah aku berpamitan dengan kedua orang tuaku.
"Ma, Yah. Ilana berangkat dulu, ya." Kataku setelah melahap nasi goreng satu piring yang disajikan oleh mama.
"Iya, hati-hati, ya." Kata mama dan ayahku bebarengan sembari menerima uluran tangan salaman dariku.
Aku langsung saja menuju ke depan rumah untuk menyetir sepeda motor matic andalan cewe-cewe. Melesat menuju sekolah beberapa saat kemudian.
Cuaca hari ini nampak cerah. Namun, kabut tetap saja masih turun. Jarak pandangku jadi dibuat lebih dekat karenanya. Tapi aku tetap saja menikmati cuaca hari ini.
Saat ini aku berhenti di lampu merah terakhir sebelum sampai ke sekolah. Aku menatap dengan pandangan sengit ke arah lampu lalu lintas itu.
Baru kali ini 32 detik terasa lama.
Di tengah-tengah gerutuan dalam hati, aku tidak sengaja melihat ke arah spion motor. Spion yang berbentuk jajar genjang itu memantulkan bayangan orang-orang yang berhenti di belakangku. Dan aku semakin membelalakan mata karena melihat ada seseorang yang kurasa tidak begitu asing.
Sebentar...
Aku berkata dalam hati dan beberapa saat kemudian aku mengenali siapa dirinya. Rupanya ia adalah Bagas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Подростковая литература🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
