Darah Muda

104 6 7
                                        


Bulan ketiga di tahun 2019, tepatnya bulan Maret, agaknya aku akan menandai kalender bulan ini dengan goresan tinta berwarna merah. Warna merah, warna yang sebenarnya jarang kita lihat di kalender itu, kali ini bukan menunjukkan bulan yang penuh dengan hari libur melainkan untuk menandai hari-hari sibukku.

Mulai bulan ini hingga beberapa bulan kedepan, aku akan dihadapkan pada berbagai kegiatan dan pilihan. Kegiatan wajib yang harus diikuti di sekolah, kegiatan hobi, dan atau pilihan tentang dimana aku akan melanjutkan pendidikan setelah lulus dari SMA. Cukup menantang, mencuri waktu tidur, menguras tenaga, dan melelahkan pikiran.

Selama hampir tiga tahun, aku bersekolah di SMA 1 Garuda. Sebuah sekolah yang lokasinya berada di Purbalingga Kulon −jaraknya cukup jauh dari rumahku− selalu mengharuskanku untuk bangun lebih pagi dari teman-temanku yang lain. Jika tidak seperti itu, mungkin saja aku menjadi pelanggan setia yang dibonusi hukuman oleh guru PPKN di sekolah.

Nakalnya, kerapkali aku mencoba untuk memesan hukuman itu. Hukuman berupa lari mengelilingi lapangan utama sekolah sebanyak lima kali setelah telat hingga kali ke tiga. Hampir saja!

Setelah menuliskan nama pada daftar siswa telat di pos satpam sekolah, aku diperbolehkan masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran. Untungnya, kali ini belum ada guru yang masuk ke kelasku.

"Lan? Nyobain telat lagi?" Tanya Audrey sembari mengambil tasnya yang diletakkan di atas kursiku.

"Ya begitulah." Jawabku dengan smirk.

"Ya Tuhan." Audrey menggeleng-gelengkan kepala ketika melihatku begitu santai menanggapi pertanyaannya.

"Kayaknya seru kalo sengaja telat sampai dua kali. Toh, sudah kelas 12. Sebentar lagi akan lulus. Tidak terlalu berpengaruh apa-apa." Aku lantas berbisik kepada Audrey, menenangkan keresahannya.

Tetapi tetap saja aku tidak mau sampai menjalani hukuman itu. Pasalnya, lapangan utama SMA 1 Garuda bak Stadion Rungrado May Day yang berada di Korea Utara. Terlalu luas dan melelahkan jika harus berlari mengelilinginya.

Tidak heran bahwa lapangan utama sekolah ini tergolong luas. SMA 1 Garuda memang dikenal dengan sekolah favorit yang memiliki bangunan megah dengan dindingnya yang dicat hijau.

Aku tidak tahu alasan kenapa bangunan sekolah ini diberi nuansa hijau. Agar menenangkan pikiran siswa, kah? Agar membuat siswa selalu senang, kah? Menurutku, tidak ada efeknya sama sekali. Yang ada, siswa tetap tidak tenang dan tidak senang dengan kehadiran tugas-tugas yang diberikan oleh para guru.

"Tumben Bu Nela belum masuk? Kosong kah?" Aku bertanya kepada Audrey setelah menyadari bahwa suasana kelas ini terlalu "sepi".

"Ada kelas kok. Beliau izin telat 30 menit. Katanya si ada keperluan."

"Yahhh, aku kira kosong."

"Iya, nanti."

"Hah? Nanti? Maksudnya?"

"Iya, setelah pelajaran Bu Nela nanti, jam pelajaran kita kosong semua. Soalnya mau ada rapat guru."

"WOW! Nice info." Ya, aku sungguh girang mendengar berita ini.

"Abis pelajaran Bu Nela, kita ke perpustakaan yuk, Lan. Buku yang kemarin ku pinjam udah selesai dibaca, nih."

"Yuk! Sehati banget sih! Baru mau ngajakin."

Obsesi VirtualTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang