Bukan Main

85 15 64
                                        

Malam ini aku kembali duduk di kursi depan meja belajar yang dihiasi dengan lampu "estetik" bercahaya terang. Aku biasa menulis jurnal, mengerjakan tugas sembari mendengarkan playlist lagu kesukaan, serta mengurus beberapa hal lainnya di atas meja ini.

"LANAAAAA... MAKAN MALAM DULU YUK." Suara panggilan yang seakan-akan otomatis terlontar pada pukul 7 malam itu akhirnya terdengar.

"Iya ma, sebentar." Aku yang mendengar panggilan dari mamaku itu langsung menghentikan semua aktivitas dan berjalan menuruni anak tangga.

Konon katanya, semua orang di rumah ini sudah hafal dengan suara langkah kakiku. Langkah kaki yang cepat dan terkesan menjatuhkan kaki dengan sengaja ke lantai membuat kehadiranku cukup dikenal oleh mereka.

"Cepet banget ya kalo urusan makan." Benar saja, ibuku langsung meledekku ketika aku menghampirinya dari arah belakang tubuhnya. Aku hanya meringis.

"Kok mama nyiapin makan sendiri? Bibi mana?"

"Bibi tadi sore izin pulang sebentar. Mau nengok cucu katanya."

"Ohh gitu. Kalo Ayah?" Kataku sambil tengak-tengok kesana kemari.

"Ada tuh di kamarnya, baru pulang olahraga." Jelas mamaku.

"Kakak?" Aku kembali bertanya setelah menyadari bahwa rumah ini terlihat sangat sepi.

"Kakak belum pulang, masih ngerjain project sama temen-temennya." Jelas mama menjawab rasa ingin tahuku.

Suara langkah kaki mendekat ke arah kami beberapa saat kemudian. Ya, itu suara langkah kaki ayahku.

"Gimana sekolahnya?" Tanya ayah kepadaku to the point ketika baru saja duduk di kursi meja makan.

"Baik, Yah. Bulan ini kayaknya Lana mulai sibuk deh. Banyak kegiatan yang harus diikuti." Aku menjawab pertanyaan Ayah sembari duduk di kursi kosong tidak jauh darinya.

"Kegiatan apa aja emang?"

"Tambahan pelajaran di sekolah, les, try out, dan baru aja dikabarin kalau diperbolehkan ikut kompetisi futsal putri, Yah."

"Kompetisi futsal putri? Kok Ayah baru tahu?"

"Iya, kok mama baru tahu juga?" Celetuk mamaku tidak mau ketinggalan

"Iya. Lana juga baru diizinin buat ikut kompetisinya. Soalnya awalnya ngga diizinin sama pihak kesiswaan karena udah kelas 12. Selain itu juga karena kekurangan orang di dalam timnya."

"Ohh gitu. Yaudah ngga papa. Yang penting kamu harus pinter-pinter bagi waktu ya." Aku mengangguk.

"Iya, Yah. Makasih."

Ayahku ini memang tidak pernah menuntut anaknya untuk melakukan ini itu. Yang penting, anak-anaknya bisa bertanggung jawab atas pilihan mereka. Mama juga demikian. Aku jadi merasa beruntung.

"Kata mama, ayah baru pulang. Ayah darimana?" Aku bertanya kepada ayah, ingin tahu langsung darinya.

"Ayah tadi olahraga sama temen-temen pensiunan. Biasa, main badminton." Aku mengangguk.

Ayahku sebagai pensiunan pegawai negeri memang kerapkali masih bersilaturahmi dengan rekan kerjanya. Ya, terkadang dengan cara berolahraga bersama. Kadang, mamaku sebagai ibu rumah tangga merasa bosan karena ditinggal seharian olehnya.

Dingg....donggggg....

Bunyi bel di rumah ini baru saja masuk ke telinga kami bertiga. Beberapa detik kami bertatapan satu sama lain.

Obsesi VirtualTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang