Dua Hari Terlelah

5 0 0
                                        

"Lan, bantuin vendor pasang lighting disana ya."

"Lan, tolong bantuin Bagas buat ngingetin jadwal tiap kelas ya."

"Lan, tolong cek konsumsi untuk vendornya, ya. Jangan sampai telat."

"Lan, jangan lupa ingetin ketua kelasnya buat ready sepuluh menit sebelum pemotretan ya."

"Lan, tolong nanti kasih rundown nya ke vendor ya."

Dan tolong-tolong yang lain dari hari pertama pemotretan. Aku tidak membayangkan menjadi panitia BTS akan serepot ini. Untung ini hari kedua, jadi aku bisa sedikit menarik napas lega.

"Lan? Sendirian aja. Audrey mana?" celetuk Bagas yang tiba-tiba berada di sebelahku. Menyodorkan es jeruk yang ditampung dalam plastik bening dengan sedotan berwarna merah.

"Audrey lagi makan sama Anwar," jawabku dengan wajah yang masih kaget.

"Jangan lupa makan. Kesehatanmu itu loh."

"Untuk yang satu itu, aku ngga akan lupa, Gas. Haha."

"Ya lagian. Dari kemarin aku perhatiin sibuk banget."

"Ya namanya juga panitia."

"Iya sih. Tapi sibukmu untuk seperti sedang berusaha melupakan sesuatu."

"Sotoy banget ya sekarang." Aku mengelak. Mencubit lengan Bagas yang berotot itu.

"Keliatan kali."

"Keliatan? Apanya yang keliatan?"

"Itu mukanya. Muka-muka sibuk melupakan sesuatu haha."

Aku mencubit lengan itu lebih keras. Biar saja sampai lebam.

"Eh tapi serius deh. Aku ngga pernah ngeliat kamu seperti ini. Biasanya kan kamu jahil, suka ngisengin Audrey, dan ya ceria ceria aja tuh sepanjang hari. Tapi sekarang lebih banyak murungnya," ucap Bagas sembari menyedot es jeruknya itu.

Aku mengalihkan pandanganku ke mata Bagas. Bertanya dalam hati apakah aku benar-benar terlihat demikian.

"Kenapa sih, Lan? Masih tentang Kak Rangga?"

Aku memalingkan wajah. Menatap rumput taman yang semakin hari semakin tumbuh meninggi.

"Gas, kalau ada orang yang mengatakan 'yaudah jalanin dulu aja'. Itu maksudnya apa? Kamu tau?"

"Ya kalau menurutku sebagai cowo, seseorang yang bilang seperti itu pasti merasa dirinya sedang dicintai. Tapi..."

"Tapi apa?" Ucapku sedikit jengkel karena Bagas menggantung kata-katanya barusan.

"Tapi dia belum atau bahkan tidak mencintai orang yang mencintai dia itu." Lanjut Bagas.

"Maksudnya?"

"Ya dia cuma ngga mau kesepian aja. Intinya, dia ngga mau ditinggalkan oleh orang tersebut meskipun dia tidak mencintainya."

Aku mengangguk lemas. Mencerna semua kata yang dilontarkan Bagas barusan.

"Tapi, bisa juga dia memang butuh waktu untuk meyakinkan dirinya. Kita tidak pernah tau tentang yang satu itu kan?" lanjut Bagas yang berusaha untuk membuatku tenang.

"Ya sudah lah. Ngga usah terlalu dipikirkan." Aku meminta Bagas menyudahi percakapan ini.

Suasana canggung kembali menyelimuti atmosfer kami. Meski sudah berbaikan, rasa canggung itu pasti ada di antara dua orang yang sebelumnya sudah pernah menjalin hubungan khusus, bukan?

Obsesi VirtualTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang