Esok kegiatan penerimaan mahasiswa baru IPB akan dimulai. Sebisa mungkin, hari ini segala persiapan sudah terpenuhi. Fatin, Maria, dan Kenzia duduk melingkar di lantai yang beralaskan karpet berwarna merah sembari menata ulang semua kebutuhan ospek.
"Duh kira-kira masih ada yang kurang ngga ya?" tanya Fatin cemas sembari bolak-balik melihat ponselnya. Melihat daftar barang yang harus dibawa besok.
"Santai aja, Tin. Nanti kalau ada yang kurang paling cuma dimarahin," balas Kenzia dengan nada santainya.
"Hahaha ngga cuma itu dong, nanti dapet malu juga. Dilihatin sama tiga ribu orang lebih," sahutku sembari sibuk memasang lampu belajar.
"Tapi emang bener kata Ilana sih. Lebih banyak malunya daripada sakit hatinya kalau dimarah saat ospek. Apalagi banyak orang yang belum kita kenal kan. Yang harusnya masih jaim jaim, malah harus dimarah di depan umum haha," celetuk Maria sembari menggoda temannya yang satu itu.
Sedangkan Fatin mulai bisa santai dan tersenyum lega setelah mendengar celotehan kami yang tak jelas di malam itu.
"Yuk semangat yuk. Yakin besok pasti ada cowo ganteng yang lewat depan mata," ujar Kenzia agak centil.
Kami bertiga hanya geleng-geleng kepala. Modelan Kenzia ini memang selalu semangat mengikuti kegiatan jika ada udang di balik batu.
"Ngomong-ngomong, kita malem ini ngga boleh tidur terlalu larut. Soalnya besok kita harus bangun pagi dan pastinya bakal rebutan kamar mandi."
"Iya, Lan betul banget. Jam sepuluh kita otw tidur kali ya biar bisa bangun jam empat pagi."
"Kita juga harus udah nyiapin semuanya di satu tas. Biar besok kalo amit-amitnya telat, kita ngga keteteran," kataku menambahkan.
Mereka mengangguk setuju dan beringsut mempercepat kesibukannya itu agar cepat kelar. Aku pun demikian. Bedanya, aku juga sedang sibuk menunggu balasan dari Kak Rangga.
Ajaibnya, malam ini, di tengah-tengah mempersiapkan ospek, Kak Rangga membalas pesanku yang sejak kemarin belum dibalas olehnya.
Kak Rangga : "Udah di asrama kah?"
Ilana : "Iya udah. Udah ada temen juga," balasku secepat mungkin setelah notifikasi ponselku berbunyi.
Kak Rangga : "Syukurlah."
Lagi-lagi, aku menerima balasan singkat itu. Tak terima hanya dibalas singkat seperti demikian, aku buru-buru mengirimkan sebuah pesan.
Ilana : "Besok aku ospek, loh."
Kak Rangga : "Oh iya? Dari jam berapa sampai jam berapa?"
Ilana : "Kumpulnya dari jam setengah enam pagi, Kak."
Kak Rangga : "Wah pagi juga ya."
Ilana : "Iya."
Centang dua itu tampil agak lama di layarku. Aku bahkan sudah hopeless kalau pesanku tak akan dibalas lagi. Tapi entah ada angin apa, apa yang aku takutkan itu justru tak terjadi.
Kak Rangga : "Ospeknya berapa hari?"
Entah lah, saat itu aku merasa kalau Kak Rangga bertanya demikian hanya karena kasihan kepadaku. Kasihan karena selalu aku yang membuka topik pembicaraan.
Ilana : "Jadwalnya empat hari. Dan berturut-turut selesai di sore hari." Balasku dengan gembira tak karuan. Jarang-jarang seperti ini. Ya meskipun aku harus memutar otak untuk mencari topik pembicaraan, tapi tak apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Jugendliteratur🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
