Pagi buta kali ini merupakan sebuah titik awal dari hari panjangku beberapa jam ke depan. Ya, hari ini aku akan mengikuti pertandingan itu. Pertandingan yang bisa dibilang untuk yang terakhir kalinya kuikuti di sekolah.
Ada yang sedikit berbeda di hari ini. Aku memutuskan untuk tidak mengendarai motor sendiri. Pak Ujang, supir rumahku, akan mengantarku hari ini karena disuruh oleh ayah. "Barang bawaan kamu kan banyak buat besok. Jadi diantar Pak Ujang aja, ya. Nanti biar ayah yang sampaikan ke Pak Ujang" Begitu kata ayah semalam.
Sebelum berangkat, aku menyiapkan barang bawaanku yang masih sedikit tercecer di lantai. Tas berisi sepatu futsal dan sepasang kaos kaki masih belum terangkut di tanganku juga. Aku agak kewalahan.
Beberapa saat setelah semuanya beres, aku mendapati layar smartphone ku menyala dan berbunyi. Tanda sebuah panggilan masuk. Aku langsung meraihnya.
"Lan, gimana? Udah siap semuanya, kan? Masih ada yang kurang ngga?"
"Emmm..." Aku meneliti setiap sudut ruangan kamar yang masih berantakan dengan barang-barangku. "Kayanya udah siap, Ris. Aman. Semua yang udah di list udah aku siapin semua."
"Oke oke. Semangat, Lan! Jangan lupa sarapan ya biar ada energi. Nanti kita ketemu disana. Dahhh..."
"Dahh... Makasih, Risda."
Seketika telepon terputus. Dan setelah itu, aku turun tangga menuju dapur. Mencari sarapan.
"Pagi, Ma, Yah. Tumben udah pada di dapur jam segini?"
"Iya dong. Kan anak mama ini mau tanding. Mama harus siapin semuanya lebih awal dong."
"Hehe makasih ma."
"Iya sama-sama. Dah tuh bantuin mama bawain nasi sama lauknya ke meja makan, ya."
Aku lantas menuruti perintah mama. Ketika aku meletakkan nasi dan lauk di atas meja makan, aku mendapati ayah baru saja menyimpan smartphone nya, seperti baru saja menelepon seseorang.
"Lan, nanti kamu dianter sama ayah aja, ya. Pak Ujang lagi ngga bisa masuk hari ini. Anaknya demam dan baru aja dibawa ke rumah sakit katanya."
"Oh iya, Yah. Siap."
₰₰₰
Usai sarapan, aku kembali ke kamar. Tanganku kembali menata apa saja yang akan dibawa hari ini. Sedikit lagi selesai, usai memasukkan kaos tim ke dalam tas ini, aku siap berangkat.
Belum juga mengangkat tas ke punggungku, lagi-lagi ada panggilan masuk ke smartphone ku.
Bagas?
"Pagi, Lan."
"Iya, pagi. Ada apa, Gas?"
"Hari ini mau berangkat sama siapa ke Arjuna Futsal Arena? Sendiri atau diantar supir?"
"Kayaknya aku dianter sama ayah, Gas. Kenapa emangnya?"
"Berangkat sama aku aja, gimana?"
"Ehh ngga ngga. Ngga usah, Gas. Ini kan weekend. Siapa tau kamu udah ada agenda lain. Aku ngga enak nanti."
"Emm iya sih ada agenda. Tapi agendanya mau nonton Ilana tanding. Jadi gimana dong?"
"Ya kan bisa berangkat nanti agak siangan bareng sama anak Bala Garuda. Lagian yang disuruh berangkat pagi buta gini kan pemain futsalnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Novela Juvenil🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
