Pertandingan hari ini sudah usai. Tepatnya usai untuk kami yang sudah dinyatakan kalah. Tak apa, mungkin hari ini kita diberi waktu untuk "pulang duluan dari yang lain".
"Drey, gimana keadaan kamu? Udah lebih baik?" Tanyaku ketika sampai di tempat dimana mereka duduk.
"Iya, udah baikan kok. Kita jadi makan, Lan?"
"Jadi kok jadiii. Ayam geprek,ya. Dibayarin sama Bagas nih katanya." Ujarku secara spontan yang dibalas dengan pelototan mata dari Bagas.
"Yuk ah gas. Kalo yang begini aku maju duluan deh hehe." Kata Anwar semangat sembari memisahkan pantatnya dengan tempat duduknya itu. "Yuk, sayang." Ucapnya sembari membantu Audrey berdiri.
Sedangkan raut wajah Bagas kini sudah pasrah. Pasrah sepasrah-pasrahnya. Namun, sebenarnya aku masih bingung kenapa dia tidak menyanggah perkataanku barusan. Bisa saja kan dia mengambil sikap itu? Entahlah.
Jarak dari tempat pertandingan menuju warung ayam geprek yang kami tuju lumayan jauh. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai disana.
"Lan, kita pake motor kamu dulu aja ngga papa, kan? Motorku lagi dipake sama temen dari SMA sebelah buat beli makanan."
"Iya ngga papa."
Dengan mengendarai dua sepeda motor, kami melesat pergi menjauhi tempat pertandingan. Aku membonceng Bagas, sedangkan Audrey tentu saja membonceng Anwar, pacarnya.
Setibanya di tempat makan, aku dan Audrey langsung memesan ayam geprek untuk kami berempat. Pelayan mencatat pesanan kami. Dua porsi ayam geprek level 5 dan dua porsi ayam geprek level 2 beserta es teh manis andalan. Kali ini aku memesan ayam geprek level 5 untuk meredakan penat di kepala.
Ayam geprek "CBC" ini merupakan salah satu tempat makanan favoritku dan Audrey. Selain harganya yang sesuai dengan kantong remaja, tempatnya juga nyaman dan bersih. Tempat makan ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dengan kursi dan meja sebagai tempat makan dan lantai atas dengan lesehan serta rooftop-nya yang bisa digunakan untuk party atau sekadar bermain kartu UNO.
Kami memilih makan di lantai atas. Kami ingin berlama-lama disini. Sambil menunggu pesanan siap, kami bergantian melaksanakan sholat maghrib di mushola kecil yang telah disediakan. Waktunya pas. Selesai kami melaksanakan sholat dhuhur, pesanan ayam geprek sudah siap santap. Kami lantas menyantapnya.
"Kok tumben ya sepi." Audrey tiba-tiba menyeletuk sebelum menyantap kali pertama suapan makanannya.
"Iya. Mungkin ramenya bentar lagi sewaktu makan malam. Lagian masih maghrib juga, kan?"
"Iya juga. Kitanya aja yang dateng lebih awal kali ya."
"Hahah iya. Gak papa deh, anggep aja rumah sendiri."
"Bisa aja kamu Lan haha."
Selagi kami bercakap, duo lelaki di hadapan kami ini justru anteng mengunyah makanannya. Tak peduli dengan apapun kecuali perutnya sendiri. Aku dan Audrey hanya bisa menatap satu sama lain. Pikiran kita mungkin sama.
Dasar, cowo kalo udah laper gini amat.
Beberapa menit kemudian, kami telah menghabiskan porsi masing-masing. Aku dan Audrey masih heran karena belum juga ada yang datang selain kami. Mungkin lagi sepi.
"Eh btw, sepi nih." Celetuk Bagas.
"Maksud kamu apaan ngomong kek begitu. Jangan aneh-aneh deh ya!" Ucapku
"Eits... siapa yang aneh-aneh, sih? Maksud aku, kita foto-foto disini, di rooftop, mumpung sepi."
Rooftop yang dimaksud Bagas letaknya memang bersebelahan dengan tempat kami makan saat ini. Tempat itu disediakan beberapa kursi dan satu meja panjang yang cocok untuk dijadikan tempat nongkrong anak senja. Pemandangan pada sore hari terlihat begitu memukau, apalagi saat ini. Langit masih menunjukkan semburat merahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Fiksyen Remaja🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
