Musyawarah angkatan siang ini berlangsung lancar. Saking lancarnya, aku masih bisa santai menyimak dari kejauhan sembari bertukar pesan dengan Kak Rangga.
Tristan, yang sedang membereskan proyektor itu, tiba-tiba memanggilku.
"Lan, tolong bantu beresin kabel-kabel yang lain ya. Ditaruh di tempat asal seperti tadi. Aku mau ke kelas dulu sebentar sama Anwar." Tristan memintaku untuk menggulung kabel-kabel yang teruntai berceceran. Aku mengiyakan.
Tinggallah aku dan Wigan di ruangan sebesar ini. Sementara Audrey dan Anwar tadi sempat pamit untuk ke kantin. Membelikan minuman untuk kami katanya.
Sementara di kantin, Audrey dan Bagas memesan jus untuk kami berenam.
"Drey, sebenernya Ilana tuh lagi deket sama siapa si?" Tanya Bagas kepada Audrey sembari menunggu pesanan jus yang sedang dibuat oleh ibu kantin.
"Kan tadi pagi kamu udah denger sendiri. Ilana lagi deket sama Kak Rangga."
"Iya tau. Maksud aku, Kak Rangga itu siapa? Kok mereka bisa kenal?"
"Kak Rangga itu temennya Kak Boni, kakak kelas pramuka nya Ilana. Belum sempet ketemu si."
"Belum sempet ketemu? Maksud kamu? Mereka cuma virtualan?"
"Ya semacam itu."
"Kok bisa? Bukannya waktu itu Ilana sempet bilang kalau dia lagi ngga mau deket sama siapa-siapa?"
"Entahlah. Hati orang siapa yang tau. Aku juga kurang percaya dengan si Kak Rangga itu. Takutnya dia hanya memainkan peraasaan Ilana. Kan kasian," ucap Audrey iba. "Tapi yang bisa kita lakukan hanya mengingatkan dan mendoakan temen kita sendiri biar ngga salah ambil langkah."
"Permisi, Mas, Mbak. Ini pesanannya," kata ibu kantin yang menghampiri kami, mengantar pesanan.
"Makasih, Bu." Aku tersenyum kepada ibu kantin itu dan memberikan beberapa lembar uang. "Yuk, Gas."
Tidak menyahut. Bagas justru bengong dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Gas!!!" kata Audrey dengan nada yang lebih keras.
"Eh iya, ayo."
Di tempat lain, aku dan Wigan baru saja selesai mengemasi barang-barang yang tadi sempat dipakai saat musyawarah. Baru saja duduk di panggung aula, Audrey dan Bagas datang ke arah kami dengan membawa enam gelas plastik berisi jus.
"Amboyyyy baik kali kalian ini," ucap Wigan sembari menerima jus dari tangan Audrey.
"Tristan sama Anwar kemana?"
"Oh mereka lagi ke kelas. Tapi ngga ngasih tau mau ngapain si," sahutku.
Sepulang dari kantin, aku melihat Bagas menjadi lebih pendiam.
"Diem diem aja, Gas?" ucapku sembari menyenggol lengan kanannya.
"Apaan sih. Biasa aja."
Meskipun ia bilang biasa saja, aku yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka berdua. Mataku sempat melihat ke arah Audrey, meminta penjelasan darinya.
Naas. Bukannya jawaban yang ku dapat, Audrey malah mengarahkan pandangannya ke arah yang lain. Hari ini Bagas nampak berbeda. Lebih ketus.
Aku tidak tau apa alasannya. Tapi yang jelas, pertukaran pesan antara aku dengan Kak Rangga sedang lancar-lancarnya.
Ilana : "Kak Rangga, aku pulang duluan ya. Kebetulan urusannya udah kelar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Fiksi Remaja🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
