Rayuan kasur empuk memang selalu menyambutku saat aku baru saja membuka pintu kamar. Kali ini aku sangat tergoda dengan itu semua. Namun, aku kembali mengingatkan diriku untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu.
"Mau mandi tapi kok males banget ya," keluhku saat melepas kaos kaki kanan. "Tapi kalau ngga mandi, asem banget nih badan, lengket pula."
Bunyi air mancur yang keluar dari shower selalu menemaniku tatkala sedang mandi. Aku tidak tau rahasia apa di balik air yang keluar dari shower ini. Pasalnya, aku selalu merasakan semua rasa lelahku sirna begitu saya ketika lapisan epidermis kulit ini terkena air hangat dari buliran air yang memancar dari shower. Tapi syukurlah, aku jadi tidak perlu sesuatu yang mahal untuk melepas rasa lelah setelah seharian beraktivitas.
Seperti biasa, setelah mandi dan memakai piyama polos berwarna biru kesukaanku, aku duduk di meja belajar. Duduk di meja belajar meskipun tak tahu akan melakukan apa sepertinya sudah menjadi candu bagi diriku sendiri.
Bengong beberapa saat dan kemudian teringat sesuatu. Instastory.
"Kira-kira Kak Rangga udah ngeliat story ku di Instagram tadi belum, ya?" Aku membatin. "Coba ah cek lagi."
Aku meringis. Kalian pasti tau bagaimana rasanya.
"Kenapa belum dilihat juga ya? Padahal udah satu jam yang lalu. Apa mungkin sesibuk itu?"
Alih-alih sedikit kesal dan bosan, aku melihat beberapa instastory pengikutku. Tepat di sebelah kanan instastory ku, ada akun Instagram milik Bagas yang juga mengunggah instastory.
Aku sedikit kaget. Ternyata postingan yang diunggah Bagas pada instastory nya itu menampakkan foto kami −foto Bagas, Audrey, Anwar, dan juga aku sewaktu makan malam tadi− dengan foto Bagas dan aku yang letaknya paling tengah.
"Anak itu paling bisa bikin baper, ya." Aku tersenyum kecil beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecut setelah menyadari bahwa semuanya telah berakhir di malam itu, di tahun lalu.
Aku begitu paham. Instastory yang diunggah blak-blakan seperti ini justru bukan merupakan sebuah privasi yang harus ditutup-tutupi oleh pemilik akunnya. Postingan yang diunggah secara blak-blakan ini "biasanya" hanya sebatas tentang teman atau urusan yang biasa. Aku mengerti dan berusaha untuk tidak terlalu diambil hati.
Sesuatu hal membuat lamunanku buyar seketika. Aku baru menyadari ada sesuatu yang belum usai.
Ilana : "Nay, lagi apa? Sorry nih kalo aku ganggu."
Naya : "Eh iya ngga ganggu kok. Kebetulan aku baru selesai beberes kamar. Ada apa nelfon, Lan?"
Ilana : "Aku mau nanyain tentang tempat tinggal sama tiket kereta ke Jogja nanti. Kamu udah dapet tempat tinggal sama tiket keret anya belum buat disana?"
Naya : "Kebetulan kalo tempat tinggal aku udah di-booking-in sama Putri, temenku yang mau bareng sama kita itu. Kalo untuk tiket kereta, aku belum pesen."
Ilana : "Ohh gitu. Berarti nanti kita pisahan ya tempat tinggalnya."
Naya : "Iya, kamu ngga papa kan sendirian? Sorry, tadinya aku pikir kamu jadi numpang di kosan kakak kelas kam. Jadi aku ngga nawarin kamu waktu itu. Hotelnya juga udah terlanjur di-booking sama Putri. Maaf ya."
Ilana : "Ngga apa apa. Santai aja. Ngomong-ngomong, aku mau cek tiket kereta nih. Kalian mau aku pesenin juga ngga sekalian?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Teen Fiction🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
