Semalaman aku tidur dengan nyenyak. Rasanya tidak ada perasaan apapun yang mengganjal. Confess ketika jatuh cinta dengan seseorang adalah jurus sakti meminimalisir sakit hati di kemudian hari.
Aku beranjak dari tempat tidur dan meraih smartphone yang tergeletak di meja kecil sebelah tempat tidurku. Aku menatap layar smartphone-ku dengan perasaan kosong. Aku mencoba untuk tidak mengharapkan apapun dari Kak Rangga.
Lima bar pesan dari Kak Rangga masuk memenuhi notifikasi pada smarphone-ku. Aku menatapnya beberapa menit. Menebak-nebak apa yang disampaikan oleh Kak Rangga. Aku sudah siap dengan apapun yang disampaikan oleh Kak Rangga lewat pesan itu. Aku lantas membukanya.
Kak Rangga : "Oke, dek. Aku udah denger semuanya."
Kak Rangga : "Jadi, aku berterima kasih karena udah berani menyampaikan perasaanmu terhadapku. Jujur, aku seneng banget kalo dikagumi oleh orang lain, apalagi Ilana yang notabene-nya adalah adik kelas Kak Boni. Ilana adalah perempuan yang baik, persis seperti apa yang dibilang Kak Boni."
Kak Rangga : "Kak Rangga bukan orang yang pembual atau munafik ya, jadi, yang di chat ini semua ya apa adanya. Aku merasa nyaman ketika bertukar pesan dengan Ilana. Perlu juga untuk tahu satu hal ini, aku juga lagi dalam keadaan netral, artinya memang sedang tidak mengejar siapa-siapa. Jadi, jangan salah paham."
Kak Rangga : "Tapi, balik lagi. Aku cuma mau kita masih bisa ngobrol dan bercanda seperti biasa. Aku nggak mau kalau hanya gara-gara ini, kita lost contact."
Kak Rangga : "Kesimpulannya, please don't get away from my side, I'm already felt comfort."
Aku membaca berulang-ulang pesan itu. Mencerna kata per kata. Aku masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Kak Rangga.
Jadi, Kak Rangga merasa nyaman ketika bertukar pesan denganku? Jadi, Kak Rangga hanya menjadikanku sebagai pengusir rasa sepinya? Hanya itu? Tidak ada yang lebih? Tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih denganku setelah beberapa kali asik bertukar pesan? Apa selama ini hanya aku yang merasakan perasaan itu?
Akhirnya aku menemukan kesimpulan bahwa Kak Rangga hanya menjadikanku sebagai teman chat-nya, tidak lebih dari itu. Kak Rangga ternyata tidak tertarik denganku.
Kak Rangga tidak menyukaiku tapi menahanku untuk pergi. Bukannya lebih baik aku pergi saja kalau seperti itu?
₰₰₰
Hari ini adalah jadwal keberangkatanku menuju Jogja. Aku menunggu Naya dan temannya di stasiun Purwokerto. Setengah jam kemudian, aku dapat melihat batang hidung mereka.
"Lan, udah lama sampe disini?" sapa Naya yang baru datang.
"Enggak kok, baru setengah jam yang lalu."
"Ohh gitu. Oh iya, ini Putri, temenku yang waktu itu pernah aku ceritain."
"Hai, Putri. Ilana" ucapku memperkenalkan diri sembari menjulurkan tanganku.
"Hai, Ilana. Putri" ucap Putri yang juga memperkenalkan diri.
"Oh iya, Lan. Kita langsung check-in aja kali ya?"
"Iya oke."
Kami bertiga mendatangi mesin check in yang disediakan di stasiun. Aku mengeluarkan smartphone-ku dan memasukkan kode booking tiket kereta disana. Setelah menunggu beberapa saat, mesin ini mengeluarkan 3 boarding pass. Aku mengambilnya dan berjalan menuju ke arah Naya dan Putri yang sedang berdiri, menyerahkan boarding pass milik mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsesi Virtual
Fiksi Remaja🚧Wajib Follow Sebelum Baca🚧 Ilana, seorang cewe perfeksionis yang selalu berpikiran idealis, merubah pola pikirnya setelah diputuskan oleh Bagas (mantan kekasihnya sewaktu kelas 12). Lalu, kemudian ia bertemu dengan Kak Rangga di layar smartphone...
