Alinea Kedelapan

1.1K 142 9
                                    

(Swastika's PoV)
*
*
*


Dalam Bingkai Kenangan 4
....
Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
....

Selang satu hari setelah upacara 17-an di kecamatan, sekolah mengadakan agenda lomba untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Beragam jenis lomba, dari yang remeh sampai berat, sudah disiapkan pihak sekolah dan OSIS. Anak-anak X-4 yang pada dasarnya senang menerima tantangan, sudah barang tentu mengirim perwakilan untuk setiap sektor. Tidak boleh satu sektor pun luput dari keterlibatan kami.

Karena ada beberapa lomba yang main dengan kotor-kotoran, sekolah membolehkan kami memakai baju bebas agar tidak mengotori seragam. Gila, sih! Aku benar-benar menunggu perhelatan hari ini.

"Okeh, tim tarik tambang siapa yang mau isi?" Langgam berkoar-koar sambil mengibas-ngibas kertas.

Aku, Ayu, Laras, Dewi, dan Bella mengacung. Saat mendengar jenis lomba yang akan dimainkan, kami sudah sepakat untuk masuk tim tarik tambang.

Langgam mengirim tatapan tak yakin kepadaku. Kenapa? Apa karena tubuh kuntetku ini jadi dia meragukan?

"Yakin kamu mau ikut tarik tambang, Wa?"

Kan, dia meragukan Suwa.

"Yakinlah. Gini-gini masuk tim utama tarik tambang RT perumahanku."

"Masa? Enggak ketarik nanti kamu?"

"Mulutnya kalau menghina lancar bener." Aku bersungut. "Enggak. Pokoknya, jangan meragukan aku. Lagian, ada Bella, Dewi, dan Ayu. Mereka bisa jadi tim belakang yang solid."

Sebelum memutuskan, kami sudah mengevaluasi kekuatan masing-masing. Sekalipun badanku tidak sebesar Ayu atau Bella, aku punya ketangkasan yang bisa diperhitungkan. Laras juga. Meski tidak sebesar Dewi, dia punya kekuatan di tangannya. Aku dan Laras selalu menjadi pemain tetap saat SMP untuk tim tarik tambang kelas.

"Baiklah. Aku percayakan lini tarik tambang ke kalian." Langgam mulai mencatat nama kami untuk nanti diserahkan ke panitia.

Setelah semua mendapat bagian menempati lini mana, kami dipersilakan untuk menuju tempat masing-masing lomba. Sementara hanya dua lapangan yang dipakai; lapangan upacara dan bulutangkis. Untuk pucang putra dan putri ada di lapangan belakang. Tidak mungkin dipasang di sini karena semua area sudah memakai bata blok. Hanya lapangan belakang yang masih tanah sehingga pucang mudah diberdirikan.

Lomba dimulai dengan adu balap karung dan memasukkan benang ke jarum di masing-masing lapangan. Nah, selain tarik tambang, aku juga mengajukan diri ikut lomba memasukkan benang ke jarum. Biar mata minus, kepiawaianku memasukkan benang tidak diragukan. Dari SD, aku sudah sering menang di lomba ini.

Hanya butuh satu kali percobaan dan ... berhasil! X-4 mendapat kemenangan pertama.

Waktu terus berjalan. Beragam lomba silih berganti dimainkan dengan beragam kelas yang menang. Sampai pukul sembilan, X-4 berhasil memenangkan enam lomba dari belasan lomba yang dipertaruhkan: balap karung, memasukkan benang ke jarum, memasukkan pensil ke botol, adu cepat mengumpulkan bendera, adu cepat mengumpulkan kelereng, adu cepat mengumpulkan belut, adu lama menahan jeruk di dahi sambil joget, lomba nyanyi solo--Langgam memaksa agar aku ikut lomba ini karena yakin aku bisa memenangkannya; Mengumpulkan koin yang menempel di pepaya berlumur oli, makan bakso paling pedas--Laras yang mewakili dan berhasil menang; Rangking 1 yang berhasil membawa Langgam sebagai juara; Lomba minum Sprite, lomba rebutan kursi, siapa yang bertahan sampai akhir dia yang menang; Ada dua kategori untuk cewek dan cowok. Bayu dan Ana berhasil menjuarai lomba ini.

Teman LamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang