Alinea Ekstra 6: Papa dan Ibu

246 34 6
                                    

Hai, hai!
Sesuai janji kemarin, Emaknya Mas Langgam mau up alinea ekstra untuk nemenin kalian malam takbiran--bagi yang menjalankannya.
O, sebelumnya Emaknya Mas Langgam mau ngucapin minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berlebaran untuk readers tersayang yang menjalankannya 🥰
Semoga Syawal yang kita temui esok bisa menjadi gerbang baru untuk kualitas iman dan ibadah kita. Menjadi lebih baik, lebih khusyu, lebih bertakwa lagi. Aamiin Aamiin Aamiin.

Persembahan spesial ini semoga bisa menghibur kalian yang sudah setia mengikuti kisah Mbak Suwa dan Mas Langgam. Semoga berkenan. Jika ada yang baik, silakan ambil. Jika ada yang buruk, mohon jangan ditiru. Happy Eid Fitri Mubarak 🥰

***

Syukuran rumah baru sore itu mengundang kerabat dan teman-teman terdekat Langgam dan Swastika. Anak-anak langsung enjoy bermain di mini park halaman samping. Selain ayunan, ada perosotan, jungkat-jungkit, dan bak pasir seluas dua meter persegi lengkap dengan ember dan sekop yang bisa mereka pakai untuk membangun istana pasir.

Acara berjalan lancar. Selain mengadakan pengajian, Swastika membagikan hampers kepada yang datang maupun tetangga-tetangga terdekat rumah mereka. Sebetulnya, lokasi rumah baru mereka tidak begitu jauh dari rumah Bunda. Hanya perlu berkendara dengan sepeda motor selama tiga puluh menit.

Awalnya, Swastika cukup kaget saat Langgam bilang telah menyiapkan pembangunan untuk hunian tetap mereka dalam obrolan beberapa hari setelah keduanya resmi menjadi suami dan istri. Pikir Swastika, Langgam akan memboyongnya ke rumah Bunda, seperti yang dilakukan Abi kepada Sekar. Namun ternyata, Langgam punya pandangan sendiri. Dia justru lebih nyaman tinggal terpisah dari Bunda meski Bunda tidak melarang mereka untuk satu atap bersama dengan ipar.

"Lagi pula, Wa. Berbakti kepada Bunda enggak harus dengan tinggal satu rumah. Alhamdulillah, aku dikasih rezeki untuk bisa bangun hunian buat kita. Sekalipun Bunda enggak akan membebani anak menantunya, aku tetep inginnya kita punya rumah sendiri. Di rumah Bunda sudah ada Mas Abi dan Mbak Sekar. Bukan suuzon, namanya hidup enggak selalu bisa akur. Aku berusaha meminimalisir gesekan di antara kamu, Bunda, dan Mbak Sekar meski aku yakin kalian bukan tipe orang yang akan meribetkan hal-hal sepele."

Yang bisa dilakukan Swastika saat itu hanya memeluk suaminya. Langgam benar-benar menyiapkan banyak hal untuk kenyamanan pernikahan mereka. Wanita itu tak henti-henti mengucap syukur jika mengingat bagaimana kisah yang telah dijalani. Pepatah lama itu benar. Kisah yang tepat akan hadir untuk orang yang tepat pada waktu yang tepat pula.

Menjelang sore, satu per satu tamu undangan undur diri, terutama para orang tua. Mama dan Abah yang harus memenuhi undangan dari salah satu kerabat. Ayah dan Bunda yang juga diamanahi untuk hadir dalam sebuah jamuan di rumah teman Ayah. Tersisa para kawula muda 'berbuntut' yang asyik mengopi sembari menemani anak-anak bermain: Resyakilla mengajak Kanisya dan Juan membangun istana pasir setelah bosan bermain ayunan dan jungkat-jungkit. Sementara Si Bungsu Rajita justru nyaman dalam dekapan budenya.

"Untung Mas Langgam langsung bangunin Mbak rumah dan boyong dia. Semakin lama dia di rumah Mama, bisa-bisa anak bungsuku pun lengket sama dia." Amanda berseloroh.

"Suwa itu punya pelet buat mikat siapa aja, Nda. Enggak anak-anak, enggak orang dewasa. Sekali dia keluarin peletnya, siapa pun enggak bisa menolak." Wawan ikut menyahut setelah menyeruput kopi hitam buatan Bayu.

Urusan racik-meracik kopi sore itu diserahkan kepada Sang Barista.

"Mana ada aku main pelet." Geplakan Swastika, yang kebetulan sedang berdiri di dekat Wawan, melayang ke bahu pria itu.

"Agaknya, kali ini aku setuju sama Wawan. Semenjak nikah dan sering banget nginep di rumah Bunda, Juan jadi seringnya main sama Suwa. Kalau Suwa pulang, anak itu nangis minta ikut. Pusing kepalaku buat nenangin tuh bocah." Sekar ikut geleng-geleng.

Teman LamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang