(Swastika's PoV)
*
*
*Dalam Bingkai Kenangan 14
OSIS semakin sibuk menyiapkan kepanitiaan untuk Malam Penggalang alias malam kemah sebagai puncak dari kegiatan MOS. Selain itu, sibuk pula menentukan anggota mana saja yang harus menjadi kakak pengawas setiap gugus. Bukan saja OSIS yang sibuk, seluruh ekstrakurikuler pun mulai berlatih untuk demo yang akan dipertunjukkan kepada murid tahun ajaran baru sebagai bentuk promosi mereka. Tidak banyak yang dilakukan anak Mading dan Berkebun. Aku kebagian meliput beberapa demo karena selebihnya harus fokus mengawas gugus.Belum lagi persiapan untuk pagelaran sebagai tugas akhir mata pelajaran Seni Budaya. Pak Elang memberi dua pilihan. Pagelaran dilakukan per murid atau per kelas. Terserah. Bagaimana enaknya untuk kami saja. Kalau aku pribadi, sih, lebih memilih per murid. Lebih mudah mengerjakan sendiri daripada per kelompok. Mengoordinasi banyak orang itu susah bin ribet.
"Jadi maunya bagaimana?" Langgam kembali memimpin rapat hari ini usai pulang sekolah.
Soal Langgam ... dia masih dingin sejak Porseni kemarin. Entahlah. Aku tidak paham. Kami mendadak seperti dua orang asing yang hidup di dunia sendiri-sendiri. Dia tidak pernah menjailiku lagi. Tidak pernah menyapaku duluan. Pokoknya, sangat berubah.
"Main drama satu kelas, yuk! Seru, deh, kayaknya." Bella mengusulkan.
"Nah, iya, tuh. Satu kelas kita main drama. Seru dan mungkin berbeda dengan kelas lain." Laras mendukung saran Bella dengan sangat antusias.
"Drama apa?" Langgam tampak mengerutkan dahi.
"Yang kayak model cerita Disney. Ada adegan nyanyinya. Ada adegan dansanya. Kita punya Putri dan Pangeran Dansa, 'kan?" Dewi ikut memberi saran.
"Yang lain jadi apa? Putri dan Pangeran, kan, Arum dan Mahesa. Yang lain meranin apa, dong?" Mina yang duduk di seberang kiriku bertanya.
"Khusus Bayu dan Wawan sudah menempati tempat paling cocok." Bella menyahut.
"Apaan, wei! Belum juga ngajuin diri." Wawan yang duduk di pojok dan sambil ngupil itu menyahut.
"Jadi pohon dan batu." Laras menambahi.
"Sialan! Enggak ada kontribusinya amat!" Bayu menukas. Yang lain terbahak demi melihat ekspresi tak terima Bayu.
Bisa saja, sih, drama satu kelas ala cerita Disney dengan hanya empat sampai enam tokoh utama. Nah, yang lain sebagai pedansa dalam malam dansa yang diadakan istana. Jadi, setiap orang memiliki skill seni yang tetap mendapat penilaian. Berdansa bersamaan bukan hal yang mudah, loh. Ada teknik yang harus dipelajari. Sayangnya, aku sedang malas memberi saran. Biarlah mereka yang memutuskan maunya bagaimana. Toh, kalau pada akhirnya solois, aku sudah punya sesuatu yang bisa dipertunjukkan.
Aku menelungkup di atas meja. Semalam, aku kurang tidur karena harus mengerjakan puluhan soal untuk persiapan ulum. Belum lagi tugas dari Bu Anik untuk membuat beberapa miniatur jendela buku.
Sejak lomba mading di Porseni kemarin, Bu Anik memintaku untuk menjadi juru desain mading sekolah. Yap! Kelas kami menjadi juara pertama dalam lomba hias mading. Bukan cuma mading, kelas kami juga memenangkan lomba keindahan taman, Rangking 1, bulu tangkis ganda putra, voli putri, basket putri, dan tenis meja tunggal putra. Sementara untuk menyanyi solo, aku hanya mampu meraih juara dua. Kak Ingga masih tak terkalahkan. Untuk sepak bola, tim OSIS harus mengakui kekalahan saat melawan tim sepak bola sekolah. Ya, meski tidak telak-telak amat. Skor tipis 4-3 dan lagi-lagi Langgam mencetak hatrick. Cowok itu bahkan mendapat penghargaan sebagai top scorer.

KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Lama
RomancePada akhirnya, setiap kebetulan hanyalah serangkaian takdir dari Tuhan untuk setiap anak manusia. Langgam mendapat kiriman surat undangan, sebuah novel, dan selembar amplop dari teman lamanya. Dalam amplop tersebut, Langgam dikejutkan oleh sebuah k...