Chapter 54: Di Balik Nama

23 1 0
                                        

Perpustakaan St. Britannia berdiri megah di sisi timur kompleks akademi, seolah menjadi tempat di mana waktu berjalan lebih lambat dibandingkan bagian lain dari bangunan itu. Dindingnya terbuat dari batu tua berwarna abu-abu pucat, ditumbuhi sulur tanaman hijau yang merambat hingga ke jendela-jendela tinggi berbingkai besi hitam. Cahaya matahari siang menyelinap masuk melalui kaca-kaca besar, memantulkan bayangan lembut ke lantai marmer yang dingin. Udara di dalamnya dipenuhi aroma khas kertas tua, kayu, dan tinta, menciptakan suasana tenang yang nyaris sakral. Tidak banyak suara selain gesekan halaman buku dan langkah kaki yang sengaja ditahan.

Louis melangkah masuk dengan tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa menjadikan tempat ini sebagai pelarian. Jas panjang hitamnya jatuh sempurna di bahu, bordiran emas di kerahnya berkilau halus ketika terkena cahaya dari jendela. Rompi merah tua di dalamnya tampak kontras namun elegan, menegaskan statusnya sebagai bangsawan Althera. Rambutnya tersisir rapi, meskipun beberapa helai jatuh sedikit di dahi, memberi kesan santai yang tidak mengurangi wibawanya. Matanya menyapu ruangan dengan lembut, seolah mencari sesuatu yang hanya ia pahami.

Ia berjalan melewati deretan rak buku yang menjulang tinggi, dipenuhi buku-buku dengan sampul kulit tebal berwarna cokelat, hitam, dan merah tua. Setiap langkahnya terdengar samar, sepatu kulit hitamnya hampir tidak menimbulkan suara di lantai. Di kejauhan, ia melihat sosok yang cukup mencuri perhatiannya—seorang perempuan berdiri di depan rak tinggi, tampak sibuk mencari sesuatu. Rambut platinum blonde yang dikenalnya jatuh lurus hingga punggung, memantulkan cahaya seperti benang perak.

Eleanor.

Namun yang membuat Louis berhenti sejenak bukanlah keberadaan Eleanor itu sendiri, melainkan sikapnya yang tampak berbeda dari biasanya. Ia terlihat sedikit membungkuk ke arah rak buku, tangannya bergerak cepat menyisir deretan judul, seolah mencari sesuatu dengan tergesa. Bibirnya bergerak pelan, dan dari jarak itu, Louis bisa melihat ia sedang menggumamkan sesuatu. Tidak jelas apa yang dikatakannya, namun ekspresinya menunjukkan ketidaksabaran yang tidak biasa.

Louis menahan senyum tipis yang hampir muncul di wajahnya. Pemandangan itu terasa... kontras. Eleanor yang ia kenal adalah sosok yang selalu menjaga setiap gerakan, setiap kata, setiap ekspresi. Ia adalah definisi ketenangan yang anggun, seseorang yang tidak mudah goyah. Namun di hadapannya sekarang, ia melihat sisi lain yang jarang—atau mungkin belum pernah—ia saksikan.

Ia melangkah mendekat dengan perlahan, menjaga agar tidak mengganggu suasana hening perpustakaan. Semakin dekat, gumaman Eleanor mulai terdengar lebih jelas, meski tetap dalam nada pelan.

"...tidak masuk akal... benar-benar tidak masuk akal..." bisiknya, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Louis berhenti beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara. "Aku tidak menyangka akan menemukanmu dalam keadaan seperti ini," ujarnya dengan nada ringan, cukup rendah agar tidak mengganggu pengunjung lain.

Eleanor terkejut.

Ia menoleh cepat, rambutnya bergerak mengikuti gerakan itu, dan matanya langsung bertemu dengan Louis. Selama satu detik, ekspresinya benar-benar terbuka—terkejut, sedikit panik, dan... tertangkap basah. Namun hanya dalam sekejap, ia kembali mengatur dirinya.

"Kak Louis," ucapnya, nadanya kembali stabil, meski ada sisa ketidaksiapannya yang tidak sepenuhnya hilang. Ia berdiri lebih tegak, merapikan posisi bukunya di tangan. "Aku tidak tahu kau ada di sini."

Louis tersenyum tipis, langkahnya kini semakin mendekat hingga berdiri di sampingnya. "Aku sering ke sini," jawabnya santai. Ia melirik rak buku di hadapan mereka, lalu kembali ke arah Eleanor. "Tapi aku rasa itu bukan hal yang paling menarik saat ini."

7 PRINCESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang