The end of war

137 14 7
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.





Jaemin menyusup kearah camp lawan, dengan cara menyamar menjadi salah satu pasukan mereka. Sedangkan Jeno dan Meihua, keduanya berperan mengatur strategi dan bekerja dari jauh.





"Wah ternyata kekuatan orang dalam memang hebat" Jaemin berdecak kagum, tak menyangka semudah itu menyusupkan tiga orang sekaligus kedalam camp musuh. Disebelah nya, Meihua mengangkat alisnya bangga mendengar pujian dari sang suami.





"Untungnya ayahmu punya akses menyalurkan gisaeng kemari, jadi kalian berdua bisa menyamar. Tapi ingat jangan bermain dengan satupun pria disana, mengerti!" Satu-satu nya pria disana mewanti wanti Meihua dan Jeno.





"Aku punya yang lebih tampan, untuk apa malah bermain dengan prajurit yang tidak ada apa apanya. Jaga dirimu jaemin, kami akan kembali dua hari lagi sesuai rencana kita" Meihua mendaratkan tubuhnya kedalam pelukan Jaemin, yang dibalas usakan halus di rambut sang istri.





"Bisakah kalian berhenti bermesraan ditengah keadaan seperti ini? Aku benci mengatakan nya tapi aku iri" Ujar Jeno sambil mengerucutkan bibirnya.





Jaemin dan Meihua merentangkan tangan mereka kearah Jeno, membuat ketiganya berpelukan ria sebelum masuk ke markas musuh. "Kembalilah dengan selamat, mengerti! Kita akan membawa kemenangan gemilang bagi Joseon" bisik Jaemin pada kedua gadisnya.





"Baiklah kami akan masuk ke dalam terlebih dahulu, wah aku tidak sabar akan bermain-main dengan para kesatria disana" Meihua tertawa pelan sembari menggoda sang suami. "Jaga mata dan pikiran kalian ya, aku tidak ingin kalian kembali dengan keadaan yaa-seperti itu" Jaemin memberikan petuah terakhirnya sebelum bergabung dalam pasukan kesatria musuh.





"Sekarang beban nya ada di pundak kita, seharusnya kita tidak boleh mengecewakan mereka. Kita harus bisa membuktikan walaupun kita seorang wanita, tapi kita sama hebatnya dengan mereka" sang ratu Joseon merangkul pundak gadis yang lebih muda darinya itu untuk memasuki rumah bordil.





.
.
.





Sehun tidak berhenti mengayunkan pedangnya semenjak fajar masih berada di peraduan nya hingga disaat matahari sudah sampai di puncaknya, sangat terik hingga membuat banyak pasukan Joseon memilih untuk berhenti sejenak dan mengistirahatkan diri mereka.





"Hyung tidak ada salahnya berhenti sebentar, kau bisa kelelahan sebelum kita sampai ke medan perang" Jaehyun berusaha mengingatkan, namun tekad Sehun untuk menang jauh lebih kuat, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun.





"Bersiap satu jam lagi kita akan segera berangkat" Jendral besar berteriak dari kejauhan, dibalas teriakan kencang oleh para kesatria Joseon. "Ini kesempatan besar bagi kita untuk menang, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun Jae" Sehun membalas sembari terengah-engah.





The Past Is My DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang