How it's begin

214 34 33
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







"LEE LUHAN" teriak Jieun murka, ia melempar semua barang yang pertama kali ia lihat di kamar sang putra. Luhan yang terkejut langsung menghampiri ibunya dengan panik, apa gerangan Jieun menemuinya ditengah hari seperti ini.






"Doyoung sialan, pokoknya aku tidak bisa membiarkan nya tetap hidup. Rencana ku untuk membuat Joseon berada di tangan Kerajaan Qing tidak boleh gagal. Dan kau, yang harus membantuku untuk merebut Joseon. Aku tidak mau tau bagaimana caranya, jika memang harus kita meracuni satu istana pun tidak masalah" Jieun berujar murka dengan ekspresi wajah yang marah.






"Eomma, tenanglah. Jangan gegabah dalam memutuskan suatu keputusan, aku hanya takut eomma salah langkah lagi. Seperti waktu itu aku bertindak terlalu bodoh sehingga terluka" balas Luhan tenang, ia bahkan tidak menatap mata Jieun yang kini tengah berapi-api.






Pokoknya ia harus menghancurkan keturunan Doyoung sampai berkeping keping. Bagaimana laki-laki miskin seperti Doyoung bisa menginjak harga dirinya di hadapan sang raja?.







"Kau bodoh atau apa? Kita harus bisa bergerak cepat agar bisa menguasai joseon. Kalau bisa, sekalian saja buat raja mati" ucap jieun final.






---------








"KAU SUDAH MATI, KENAPA KAU MENGAMBIL JIWAKU? SEHARUSNYA KAU SUDAH MEMBUSUK DI NERAKA!!!!!" Teriakan kencang itu membangunkan kai dari tidurnya, nafasnya memburu dan wajahnya pucat pasi. Tubuhnya gemetaran dan keringat mengucur deras dari pelipisnya, kata-kata di dalam mimpi nya itu selalu tergiang-giang dan mengganggunya.







"Apa aku adalah antagonis disini? Aku hidup nyaman dalam tubuhnya dan mengambil jiwanya. Semua salahku hiksssss" kai menangis sambil menutupi seluruh wajahnya, mengabaikan eksistensi Sehun yang berada di sebelahnya merasa terusik dalam tidurnya.







Laki-laki itu perlahan membuka matanya dan berusaha menyesuaikan retina matanya dengan cahaya pagi. Ia langsung membelakan matanya saat melihat kai menangis disampingnya.
"Hei, apa semalam aku berbuat terlalu kasar padamu sehingga kau menangis? Aku sungguh minta maaf" Sehun kelabakan berusaha menenangkan Kai.






Tangis kai terhenti setelah mendengar pernyataan Sehun. "A...ap...apa? Mati saja kau sialan OH SEHUN" teriak kai kencang, membuat Sehun menutup kupingnya yang terasa pengang akibat ulah Kai.







"Kenapa kau malah berteriak kai-ie? Bukankah semalam kita sudah menghabiskan waktu yang indah semalaman? Kita sudah lama tidak bertemu dan melepaskan rindu. Itu kan tidak salah kalau kita melakukan hal seperti itu." Balas Sehun sambil cemberut.







The Past Is My DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang