Malam ini Aryan benar-benar menekuni proposal pemilihan OSIS yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Mau bagaimana lagi, sudah belasan panggilan juga pesan menghampiri ponselnya, 99untuk segera menyelesaikan proposal itu. Siapa lagi kalau bukan dari Hans, sang mantan ketua OSIS dengan segala kebijaksanaannya.
Hampir dua jam sejak kepulangannya dari kafe ia berkutat dengan laptopnya. Tak sedikitpun ia berpindah dari sana, niatnya memang sudah ada dan sekarang dia berhasil.
Klik...
Keyboard bertuliskan enter itu baru saja ia tekan, pertanda jika dokumen proposalnya sudah hampir terkirim ke perangkat milik Hans. Berhasil, Aryan mengulas senyum dengan perasaan lega.
Cowok itu menghela napas panjang, mematikan laptop lantas meregangkan otot-otot tangannya. Rasa pegal dan lelah seketika terasa di badan cowok itu.
Ia berharap semua yang ia lakukan mampu memberikan yang terbaik untuk kedepannya. Apapun hasilnya nanti, ia akan tetap optimis dan yakin bahwa semua itu yang terbaik.
Merebahkan tubuh memang menjadi hal yang sedari tadi ia nantikan. Ia mencoba memejamkan mata, sengaja ingin tidur cepat mengingat besok merupakan hari pertama masuk sekolah.
Ya, tahun ajaran baru segera dimulai dan jatuh pada hari esok. Aryan tidak merasakan apa-apa, hanya pemilihan OSIS itu yang sekarang memenuhi otaknya. Perihal mata pelajaran di kelas dua belas yang semakin sulit sama sekali tidak terpikirkan.
"Abang!" panggil Dina seraya membuka pintu kamar putranya.
Membutuhkan beberapa detik bagi Aryan untuk tersadar. Merubah posisi menjadi duduk seraya menatap Dina penuh tanya.
Belum terlelap hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Membayangkan bagaimana ia akan memegang jabatan yang seumur-umur belum pernah ia lakukan.
"Ada Alya di depan," kata Dina seraya kembali menutup pintu putranya.
Kernyitan pada dahi Aryan bertambah ketika baru menyadari jika waktu sudah mulai larut, dan pertanyaannya kenapa Alya datang ke rumahnya selarut ini.
Benar saja Alya sudah duduk manis di ruang tamu, dengan dihadapannya secangkir teh yang masih mengelurkan uap.
"Eh, lo ngapain kesini malem-malem?" serobot Aryan ditengah langkahnya.
"Huss, abang nih kebiasaan, kalo Alya kesini pasti pertanyaannya gitu," tukas Dina tidak terima.
Alya terkekeh pelan, "Aryan emang rese dari dulu, bun," sahut Alya.
Aryan mengeluarkan cengirannya.
"Sebenarnya gua mau ngajak lo jalan, mau nggak?" tanyanya.
"Iya, tadi Alya bilang katanya besok udah mulai sekolah kan, jadi mau ngabisin waktu sama kamu malem ini."
"Mm, boleh aja si tapi-
Aryan menatap Alya kemudian Dina secara bergantian, "lo udah baikan, kan?"
Alya mengangguk mantap. Ia mengerti jika Aryan khawatir karena kejadian pasca penculikan yang terjadi pada gadis itu.
"Baikan, baikan kenapa?" tanya Dina bingung.
"Nggak kok bun, itu si Alya kan suka tiba-tiba masuk angin gitu," ucap Aryan asal.
"Owh, iya juga si, musim hujan gini gampang banget masuk angin,"
"Udah malem banget loh ini, kalian yakin mau keluar?"
"Nanggung lah bun, Alya udah jauh-jauh kesini juga," ucap Aryan.
Sebenarnya ia sendiri sangat lelah, beberapa jam ia habiskan untuk memelototi layar laptop namun, di satu sisi ia merasa tidak tega jika menolak permintaan gadis itu. Salahkan juga Aryan yang tidak bisa meluangkan waktu liburannya untuk jalan-jalan dengan Alya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARYAN [ Revisi ]
Novela Juvenil"Hmm, gua punya info penting buat lu?" Alya yang tertarik menghentikan langkahnya dan menatap Aryan penuh tanya. "Apaan?" Aryan mendekatkan wajahnya ke arah Alya "Rasa sayang gua sama lu masih sama malah makin tambah" bisiknya. Alya melotot sedang...
![ARYAN [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/273761633-64-k199590.jpg)