Malam ini Alya mendapat pesan dari mamanya untuk segera pulang. Padahal waktu masih belum terlalu larut dan entah mengapa mamanya begitu ingin Alya pulang secepat mungkin.
Dalam hati ia sedikit tidak terima karena waktu bersama Aryan terpaksa harus ia relakan demi kepentingan mamanya yang mendadak membuatnya tidak berhenti menggerutu.
"Nggak usah manyun gitu, nurutin kemauan orang tua tuh dapet pahala, Al."
"Udah tahu."
Aryan terkekeh pelan. "Gih, cepet masuk ntar di cariin lagi."
Gadis itu menghela napas berpikir jika begitu ringannya cowok itu untuk berpisah dengannya. Apakah ia begitu ingin cepat-cepat berpisah. Sial, bisa-bisanya ia memikirkan hal semacam itu memangnya dia siapa. Oh tolonglah, segera berikan kesadaran untuk Alya yang selalu menyeleweng ini.
"Besok jangan lupa, ya, ntar guae jemput kok," ucapan cowok itu mampu menyadarkannya dari pemikiran konyolnya.
"Hmm."
Aryan tersenyum tipis merasa gemas dengan wajah kesal dari gadis itu. "Yaudah gue cabut dulu, sampai ketemu besok," tangannya menyempatkan untuk mampir di puncak kepala gadis itu, mengacaknya lembut dan memang sudah menjadi kebiasaannya.
"Hati-hati," cowok itu tersenyum sebagai tanggapan.
"Senyum dong, masa gue di kasih wajah jutek di kesan akhirnya."
"Heh, emang lo mau kemana? Nggak usah bawa-bawa kesan pertama kesan terakhir segala, kayak mau pergi jauh aja."
Lagi-lagi cowok itu mengembangkan senyumnya. "Emang gue mau pergi, kan besok udah pisah lagi."
"Ar..."
"Hehe, bercanda gue-...
"Good night-...
"My future," Aryan menyengir di balik helmnya lantas menancap gas membelah jalanan kompleks perumahan itu.
Alya terbelalak. "Ar, kalo gue baper tanggung jawab lo," teriaknya namun sudah tidak tertangkap lagi pada pendengaran cowok itu.
Tanpa sadar pipinya bersemu merah serta merasakan ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Senyum manis terukir jelas hingga menjadi teman yang mengiringi langkahnya sampai di ambang pintu, pandangannya jatuh pada ruang tengah yang sudah ada keluarga lengkapnya, hanya tertinggal dirinyalah yang belum ada di sana.
"Kamu ganti baju dulu, ya, sayang. Ada yang Mama sama Papa bicarain," ucap Liana lembut.
Ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar lantas menjalankan perintah ibunya. Sekitar lima menit berlalu ia sudah duduk di samping ibunya. Terlihat Farhan masih setia dengan ponsel di tangannya serta Dion yang tengah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa seraya memejamkan kedua matanya penuh, entah apa yang ia pikirkan atau mungkin sudah hampir berada dalam fase bosannya.
Setelahnya Farhan memulai pembicaraan, seperti biasa hanya bertanya kabar dan keadaan sekolah kedua anaknya. Alya menceritakan sedikit tentang sekolahnya sementara Dion hanya menjawab singkat-singkat saja. Tidak ada yang istimewa dari sekolah menurut cowok itu. Dan di situlah Alya menyampaikan undangan untuk pengambilan raport hari sabtu nanti. Liana dan Farhan hanya mengiyakan tanpa berjanji untuk datang.
"Sebenarnya ada hal penting yang akan papa sampaikan ke kalian-...
Alya mendongak menatap Farhan seakan menanti kelanjutan kalimatnya dan Dion hanya menampilkan wajah datar seperti biasa.
"Papa sama mama ada pekerjaan di luar kota, seperti yang kalian lihat papa selalu ada pekerjaan berpindah-pindah. Dan pekerjaan ini mengharuskan papa untuk keluar kota."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARYAN [ Revisi ]
Ficção Adolescente"Hmm, gua punya info penting buat lu?" Alya yang tertarik menghentikan langkahnya dan menatap Aryan penuh tanya. "Apaan?" Aryan mendekatkan wajahnya ke arah Alya "Rasa sayang gua sama lu masih sama malah makin tambah" bisiknya. Alya melotot sedang...
![ARYAN [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/273761633-64-k199590.jpg)