Saat ini Aryan dilanda kebingungan, ponsel Alya tidak aktif dan sudah belasan panggilan tanpa ada sahutan dari sana. Perasaannya yang tidak enak semakin membuatnya khawatir.
Lo dimana sih, Al?
Drrt... Drrt...
"Halo."
"Lo dimana, Ar?"
Bukan Alya, harapannya terlalu besar untuk saat ini. Ia menatap ponsel dan nama 'Hans' tertera di sana.
"Gua di rumah lo,"
"Lo ngapain-
"Mending lo pulang, gua nggak bisa nunggu keputusan lo lebih lama lagi."
"Hmm, oke."
Pikirannya yang bercabang seperti saat ini tidak terlalu baik jika harus bertemu dengan Hans dan membicarakan masalah organisasi.
Sesampainya di rumah, terlihat Hans yang sudah duduk di kursi depan rumahnya.
"Langsung ke intinya aja, gua tanya sekali lagi. Lo mau nggak jadi kandidat ketua OSIS?" desak Hans.
"Gua cuma butuh kepastian dari lo, dan kalaupun lo nggak mau gua masih punya waktu buat cari orang lain," lanjutnya.
Membutuhkan waktu beberapa detik bagi Aryan untuk mencerna pertanyaan itu. Jika di bilang mau Aryan mau-mau saja namun, ia juga memiliki keraguan tersendiri untuk hal itu.
"Gua mau," final Aryan. Dua kata itu terlontar dengan berbagai pertimbangan, otaknya tidak berhenti berputar sedari tadi.
Bibir Hans terangkat, usahanya selama ini tidak sia-sia. Aryan berhasil ia rekrut ke dalam OSIS. Kemajuan SMA 6 ia amanahkan kepada Aryan. Saat ini, Hans hanya berusaha untuk bagaimana memenangkan Aryan agar menjabat ketua OSIS. Tentunya dengan tanpa kecurangan atau apapun itu.
"Oke, sebelumnya gua say thanks banget sama lo. Soal OSIS ini gua nggak pernah main-main. Walaupun gua bukan lagi anak SMA 6, tapi citra SMA 6 masih membutuhkan orang berkarakter untuk kedepannya."
Aryan tertegun mendengar hal itu. Amanah organisasi memang sangat Hans prioritaskan sekali.
"Hmm, sama-sama."
"Gua bakal dukung lo sampe lo menang jadi ketua nanti."
Lagi-lagi Aryan dihadapkan pada harapan seseorang. Orang lain yang menaruh harapan besar padanya, bukan salah namun, keyakinannya saja tidak sampai sebesar itu.
"Besok kita ketemu lagi buat ngurus proposal pengajuan,"
Aryan mengangguk mengerti.
"Tunggu..."
Hans menatap Aryan penuh tanya.
"Gua nggak bisa menuhin ekspektasi lo tentang gua, kalo sampe ada hal buruk terjadi-
Aryan menatap Hans dalam, "gua nggak bisa kendaliin semua."
"Bisa diatur, lo santai aja," balas Hans.
Setelah dirasa tidak berkepentingan, Hans pamit untuk pulang.
Cowok itu memasuki rumah, ibunya sedang berkutat di dapur sampai tidak menyadari dia pulang. Ia melanjutkan langkah menuju kamar. Membersihkan diri lantas merebahkan tubuhnya di kasur. Mungkin tidur akan membuatnya sedikit segar lagi.
Sebelum itu ia meraih ponsel, masih sama tidak ada pesan yang terbalas atau panggilan masuk dari Alya. Tidak biasanya ponsel gadis itu tidak aktif selama ini. Ia mencoba berpikir jernih, menghalau semua pikiran buruknya.
Drrt.... Drrt....
"Halo,"
"Lo Aryan, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ARYAN [ Revisi ]
Novela Juvenil"Hmm, gua punya info penting buat lu?" Alya yang tertarik menghentikan langkahnya dan menatap Aryan penuh tanya. "Apaan?" Aryan mendekatkan wajahnya ke arah Alya "Rasa sayang gua sama lu masih sama malah makin tambah" bisiknya. Alya melotot sedang...
![ARYAN [ Revisi ]](https://img.wattpad.com/cover/273761633-64-k199590.jpg)